Selasa, 01 Maret 2016

Lima Salah Paham tentang Bersyukur



Artikel ini kuforward dari situs Bang Arvan yang merupakan motivator favoritku
 
 
Suatu hari di tahun 1999, Stephen King penulis Amerika Serikat terkenal mengalami kecelakaan lalu lintas cukup parah. Ia ditabrak oleh seorang pengemudi van tak jauh dari rumahnya.
King segera dilarikan ke rumah sakit dengan luka berganda di tangan dan kakinya, paru-parunya rusak, tulang rusuknya patah dan kulit kepalanya koyak. Pengemudi van luka parah dan akhirnya meninggal dunia.
King selamat dari kejadian itu dan ketika ditanya apa yang ia pikirkan, ia mengatakan bahwa ia bersyukur. “Kasih Tuhanlah yang membuat pengemudi van itu tidak sampai merenggut jiwa saya,” ujarnya.
Mengapa King–yang dijuluki Master of Horror–mensyukuri kecelakaan mengerikan itu? Bukankah ini merupakan musibah yang sangat berat baginya?
Pertanyaan ini sesungguhnya menunjukkan kesalahpahaman mengenai bersyukur. Ada lima kesalahpahaman orang terhadap bersyukur.
Pertama, bersyukur hanya dilakukan kalau kita sedang senang, kalau segala sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita. Banyak orang yang lupa bahwa bersyukur sesungguhnya juga perlu dilakukan di saat susah, karena kita tak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik setiap musibah.
Segala sesuatu pastilah terjadi karena izin Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang pastilah akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi kita.
Semua hal yang buruk tetapi menghasilkan sesuatu yang baik sesungguhnya adalah hal yang baik. Persoalannya, semua itu perlu dilihat dalam kaca mata jangka panjang, karena boleh jadi secara jangka pendek hal itu tidak menguntungkan.
Kesalahpahaman kedua adalah kita sering bersyukur untuk hal besar, tetapi lupa bahwa ada ribuan hal kecil yang merupakan rahmat Tuhan untuk kita. Kita bersyukur ketika menang tender, naik pangkat, dan mempunyai anak.
Akan tetapi, kita lupa bersyukur bahwa kita masih mempunyai pekerjaan, bisa berjalan, bernapas, dan bisa tidur nyenyak. Semua hal itu sering kali kita anggap sepele, sebagai sesuatu yang sudah seharusnya.
Kesalahpahaman ketiga, ketika kita hanya bersyukur untuk hal yang kita dapatkan, padahal mestinya kita bisa bersyukur atas hal yang tidak kita dapatkan. Kita bisa selamat dalam perjalanan ke kantor atau pulang ke rumah, bukankah ini berarti kita telah melalui berbagai bahaya dengan selamat?
Kita bepergian ke mana-mana dengan pesawat terbang dan sampai hari ini belum pernah mengalami kecelakaan sedikit pun, bukankah itu keajaiban yang luar biasa? Kita tidak tertular penyakit yang berbahaya, serta berada dalam kondisi yang aman dan damai, bukankah ini betul-betul rahmat yang luar biasa? Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita dilanda perang saudara seperti yang terjadi di Suriah?
Keempat, kita sering menilai segala sesuatu ketika hal itu masih ada, padahal arti bersyukur adalah membayangkan ketika segala sesuatunya sudah tidak ada lagi. Ketika memiliki pekerjaan, kita mengeluh dan hanya memberikan nilai 6 atau 7 (dari skala 1-10) terhadap pekerjaan kita.
Kita mungkin juga hanya memberikan nilai yang sama pada bawahan kita. Namun saya berani mengatakan bahwa nilai tersebut pasti salah. Nilai yang sebenarnya baru akan kita rasakan ketika segala sesuatunya sudah hilang dari diri kita.
Kita sering undervalue terhadap apa yang kita miliki saat ini karena kita lebih fokus pada masalahnya, bukan pada anugerahnya. Berapa pun nilai yang kita berikan sudah pasti salah.
Kecenderungan undervalue ini perlu benar-benar kita sadari. Karena itu, untuk mendapatkan nilai yang sesungguhnya saya sarankan agar Anda menambahkan minimum 2 skor di atas penilaian Anda terhadap apa pun yang Anda terima hari ini.
Kesalahpahaman kelima, syukur sering diartikan sebagai cepat puas. Inilah yang membuat banyak pemimpin bisnis mengatakan pada saya bahwa syukur kurang tepat bagi dunia bisnis. Padahal menerima (acceptance) barulah separuh dari bersyukur. Bersyukur yang sejati adalah ketika kita juga mengeksplorasi (exploration) terhadap potensi yang kita miliki saat ini.
Potensi adalah hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tugas kita sesungguhnya menjelajahi semua potensi tersebut, kemudian memanfaatkannya bagi orang banyak.
Bersyukur adalah mengolah potensi tersebut semaksimal mungkin, dan tidak membiarkan ada potensi–sekecil apa pun–yang sia-sia dan tak termanfaatkan. Karena itu, selain acceptance syukur mengandung dimensi exploration.
Kalau bersyukur hanya diartikan dengan menerima apa yang kita peroleh, bisnis akan mandek dan stagnan. Bisnis yang baik adalah menerima pencapaian kita hari ini tetapi terus menjelajahi potensi kita untuk kepentingan orang banyak. Inilah bersyukur dalam arti yang sesungguhnya.

Selasa, 19 Agustus 2014

AMBILLAH WAKTU



Ambilah waktu untuk termenung...
Ambilah waktu untuk berdoa...
Ambilah waktu untuk tertawa...

Itulah sumber kekuatan...
Itulah kekuatan terbesar di atas Bumi...
Itulah alunan melodi jiwa...

Ambilah waktu untuk bermain...
Ambilah waktu untuk mencintai dan dicintai...
Ambilah waktu untuk memberi...

Itulah rahasia masa muda yang abadi...
Itulah anugerah Allah yang istimewa...
Sehari terlalu singkat untuk bersikap egois...

Ambilah waktu untuk membaca...
Ambilah waktu untuk bersahabat...
Ambilah waktu untuk bekerja...

Itulah mata air kebijaksanaan...
Itulah jalan menuju kebahagiaan...
Itulah harga kesuksesan...

Ambilah waktu untuk melakukan perbuatan kasih...
Itulah kunci menuju Surga
---
Kata2 ini terukir pada sebuah dinding rumah untuk anak-anak miskin di Calcuta, India

Rabu, 21 Agustus 2013

Ingin sukses, jangan bermental PENGEMIS

Salah satu ajaran Rasulullah saw, yang berkaitan dengan manajemen diri adalah Sukses dengan membiasakan diri untuk tidak bermental pengemis.
Salah satu hadis riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi, dikisahkan bahwa seorang laki-laki dari golongan Anshor datang menghadap Rasulullah saw. Dia memohon agar Rasulullah saw memberinya sesuatu untuk dimakan.
Memang kamu tidak mempunyai sesuatu di rumah?”
tanya Rasulullah.
Tentu saja ada wahai Rasulullah. Saya masih mempunyai sehelai kain yang sebagiannya kami pakai dan sebagian lainnya kami hamparkan, serta sebuah gelas besar tempat kami minum air”.
Jawab laki-laki itu.
Nabi kemudian menyuruhnya membawa dan memperlihatkan barang-barang itu kepadanya. Si laki-laki Anshor itu lalu membawa barang itu dan menyerahkannya pada nabi.
Siapa yang akan membeli barang-barang ini?
kata nabi. Seorang laki-laki berkata,
Aku berani dengan harga satu dirham”.
Rasulullah menimpali,
“Siapa yang akan menambah lebih dari satu dirham?”.
Seorang laki-laki berkata,
Aku mengambilnya dengan harga dua dirham”.
Nabi kemudian memberikan dua barang itu kepada penawar terakhir dan mengambil dua dirham itu, lalu memberikannya kepada lelaki Anshor tersebut.
”Belikan makanan dengan salah satu dari dua dirham ini lalu berikan kepada keluargamu, dan belikan sebuah kapak dengan satu dirham lainnya kemudian bawalah kapak tersebut kepadaku”.
Si laki-laki Anshor itu pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. Dia menyerahkan kapak yang baru dibelinya kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, Rasulullah SAW memberikan pegangannya, lalu bersabda,
“Pergi dan carilah kayu bakar, kemudian juallah. Aku tidak ingin sama sekali melihatmu selama lima belas hari”.
Setelah mengerjakan perintah Rasulullah saw itu, datanglah laki-laki Anshor itu membawa 10 dirham kemudian membeli makanan dengan sebagian dari uang itu. Rasulullah bersabda,
“Ini lebih baik daripada kamu meminta-minta karena hal itu hanya akan menjadikan noda di wajahmu pada hari kiamat nanti”.
Ada beberapa hikmah sangat penting yaitu;
Pertama, hindarkan sikap meminta, sebab bisa melemahkan kegigihan jiwa untuk menghadapi hidup ini;
Kedua, Isi perut kita dari hasil keringat sendiri agar halal prestatif, bukan halal karena belas kasihan orang, apalagi karena sebel;
Ketiga, Berani menghadapi resiko psikologis dengan cara ada rentang waktu kegigihan tidak merengek-rengek minta bantuan misalnya 15 hari seperti terapi psikologis yang dilakukan Rasululullah saw.

SUMBER : http://www.pradhana.net/ingin-sukses-jangan-bermental-pengemis/ 

Jumat, 16 Agustus 2013

BELAJAR DARI SEJARAH?



by : D. Manggala 
 
Kalau Bung Karno dulu berpesan "Jas Merah, Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah", maka pertanyaan saya belakangan ini adalah "Apa yang bisa saya pelajari dari sejarah?". Dulu saya nemu beberapa buku (obralan) yang judulnya "History of Religion", "History of Philosophy", dan "Map of World History". Bukunya tebel-tebel dan kertasnya bagus-bagus tapi dijual dengan harga sangat murah. Inilah pelajaran no 1 dari mempelajari sejarah:
 
Pelajaran #1: Buku Sejarah (sebagus apapun itu dibuat/dicetak) pada umumnya tidak laku, dengan kata lain, manusia secara umum tidak suka belajar dari sejarah.
Dari membuka-buka buku yang tebel-tebel tersebut, kalau kita melihat lintasan sejarah 8 ribu tahun terakhir ini (baik dari sisi sejarah dunia, sejarah agama dan filsafat), secara gamblang akan kita sadar ada satu tema yang tidak pernah absen dari sejarah manusia: PERANG. 

Pelajaran#2: Tidak akan pernah ada apa yang kita sebut "Perdamaian Abadi" di dunia ini. Pasti selalu ada perang, entah perang lokal, perang dunia, perang gerilya, ataupun perang pasca perang dingin (negara superpower vs. "teroris").
Mungkin akan ada yang bilang bahwa pendapat diatas adalah pendapat seorang fatalis atau pesimis, malah mungkin pandangan diatas dianggap sebagai aliran sesat atau anti-agama. Tapi, temanku, coba kita baca lagi catatan sejarah dan mungkin direnungkan baik-baik. Karena kalau kita renungkan dengan baik, ternyata sejak awal sejarah manusia sampai jaman yang katanya super moderen ini, ternyata manusia tidak tambah maju ataupun mundur. 

Pelajaran#3: Persoalan manusia dari jaman ke jaman adalah tetap sama; tidak ada perubahan permasalahan dan cara berpikir antara manusia jaman batu dan jaman komputer.
Ibaratnya kita merasa sedang berlari, tapi sebenarnya kita sedang lari diatas treadmill dengan dinding yang pemandangannya berganti-ganti. Kita merasa sudah berlari dengan kencang melintasi hutan, gunung, dan pantai; yang sebenarnya adalah kita lari ditempat dengan setting yang berubah-ubah. Sejarah manusia adalah sejarah survival. Kalau ribuan tahun yang lalu kita berburu binatang untuk dijadikan makanan dan pakaian, maka jaman sekarang ini manusia berburu uang untuk dibelikan makanan dan pakaian.
Sekali lagi ini bukanlah sebuah pesimisme; ini adalah renungan saya dari melihat kebelakang sejauh 8 ribu tahun. Kita mesti melihat ke belakang, karena ada satu lagi hal yang juga sangat jelas:
 
Pelajaran#4: Kemiskinan dan Kejahatan tidak akan pernah punah dari dunia ini.
Selalu akan ada orang miskin, walaupun itu dengan sistem negara kapitalis ataupun sosialis. It doesn't matter. Kenapa selalu akan ada orang miskin? Karena pasti akan selalu ada orang jahat yang mengambil hak orang miskin.
Dengan empat pelajaran diatas, apakah berarti tidak ada gunanya lagi kita berusaha? Toh, bagaimanapun kemiskinan tidak akan hilang; selalu ada kejahatan, perang, dan ketidakadilan? Nah, inilah pelajaran terakhir yang mungkin bisa saya ambil dari belajar sejarah:
 
Pelajaran#5: Selalu ada orang "GILA" yang akan dicatat oleh sejarah; baik itu tinta emas, tinta platina, tinta darah.
Selalu akan ada orang yang cukup gila untuk tidak percaya pada keempat pelajaran pertama diatas. Selalu akan ada orang yang percaya bahwa ia bisa mewujudkan perdamaian abadi, atau menghilangkan kemiskinan di dunia. Ada juga orang-orang yang akan percaya bahwa ia adalah penguasa dunia, orang-orang yang haus kuasa, dan cukup gila untuk percaya bahwa ia adalah tuhan.
Menjadikan diri kita sama dengan kelompok, maka kemungkinan untuk dicatat sejarah akan hilang.
Lihat sejarah para nabi atau pemuka agama. Mereka adalah orang-orang yang menjungkirbalikkan pendapat masyarakat di jamannya. Wright bersaudara adalah dua orang gila yang menjadi bahan tertawaan di jamannya.
Sebagai penutup, dapat dikatakan bahwa semakin kita banyak membaca sejarah, semakin aneh dan lucu rasanya dunia dan hidup ini. Agama yang harusnya menjadi sumber perdamaian, malah lebih sering menjadi sumber peperangan. Pemerintah dan Raja yang seharusnya melindungi, malah lebih sering menjadi penindas rakyat. Semakin canggih teknologi yang membantu manusia, malah menjadikan manusia bekerja semakin lama.
Setelah merenungkan kelima pelajaran diatas, ternyata saya masih bertanya-tanya "Apa yang bisa saya pelajari dari sejarah?"
 
Catatan tahun ini:
Di jaman korupsi merajalela, maka kesempatan untuk menjadi GILA dengan bersumpah mati melawan korupsi adalah kesempatan tercatat dalam tinta emas sejarah. Adakah yang berani?

Selasa, 12 Februari 2013

SEBAB MEKARMU HANYA SEKALI

Surat Cinta untuk Putri tercinta

oleh : Haikal Hira Habibillah

Ketika angin zaman menerpamu
Di atas cadas ataupun lumpur cemar
Teruslah mewangi wahai kuntumku
Tetaplah indah di padang liar
Hingga kaulah yang akan dipetik
Sebab mekarmu hanya sekali!

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanyalah milik Allah Subhaanahu wa ta’ala, Raja semesta alam. Semoga Dia senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita dalam setiap pijakan langkah di muka bumiNya. Selanjutnya, semoga salam dan sejahtera selalu tercurah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang Nabi paling akhir, manusia termulia serta kekasihNya yang kehadirannya telah dihadiahkan bagi dunia yang gelap gulita sebagai satu-satunya teladan paripurna untuk segenap makhluk yang hidup sesudahnya. Semoga keselamatan juga tetap terlimpah kepada keluarganya, para sahabat beliau yang mulia, alim ulama serta seluruh umat yang tak pernah henti dicintainya.

Putriku terkasih,…!!

Memandang lelapmu dalam dekapan sang ibu selama ini, selalu membuatku yakin bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja. Menikmati lembut nafasmu di atas buaian, selalu membuat nyaman perasaanku di saat itu. Lalu masa-masa yang indah itu dengan cepat telah berlalu. Dan usia terus saja mengambil jatahnya. Hingga ketika hari telah berganti minggu, dan bulan pun menapak tahun, tiba-tiba baru kusadari bahwa tak lama lagi kau akan lepas dari sisiku. Karena sudah tiba waktunya kau harus pergi. Menjemput kehidupan milikmu sendiri. Ya, sudah saatnya kau harus kulepaskan menuju kehidupan baru di luar sana.
Dunia luar! Adalah sebuah tempat yang sama sekali tak ramah, putriku. Sebuah ruang di mana kau harus mampu untuk tetap bertahan di tengah-tengah segala ancaman yang bakal terus menghadangmu. Dengan bumi yang semakin tua serta dipenuhi oleh beragam fasilitas yang seharusnya bisa lebih memudahkan kehidupan. Tapi ternyata semua itu justru membuat realitas kehidupan makin bertambah kacau dan carut marut. Hari-hari terakhir ini, segala bentuk kekerasan dan tindak jahiliyah sudah menampakkan diri secara terang-terangan. Pergaulan bebas dengan bermacam latar belakang dan sebabnya telah makin menjauhkan manusia dari kehidupan yang ideal. Percampuran antara pria dan wanita yang melanda setiap jengkal bumi telah menjadi pemandangan biasa dan wajar. Dan tanpa disadari oleh siapa pun, ‘kewajaran’ itu mulai menampakkan gejala-gejala yang membahayakan. Ya, berbagai macam dampak negatif atas budaya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) mulai muncul. Dan lagi-lagi, kaum wanita seperti dirimu adalah yang pertama kali merasakan akibatnya, langsung maupun tidak. Lalu liputan dari berbagai media yang cuma berisikan berita-berita memiriskan jiwa. Semuanya berlomba-lomba untuk menampilkan sisi bengis dan buram wajah kehidupan.
Kejahatan dan kemaksiatan di lingkungan sekitar kita hanyalah masalah waktu. Tak ada lagi sebuah tempat pun yang benar-benar aman. Begitulah! Ketika hari ini aku kembali lagi menatap dunia yang liar itu melalui jendela rumah kita. Tiba-tiba telah digerakkanNya tanganku untuk menuliskan beberapa patah kata yang ingin kutitipkan untukmu. Maka hanya kepadamulah wahai puteri tercinta, kutuliskan surat ini. Bersama baluran doa restu serta curahan rasa cintaku yang tak pernah kering, akan kupintakan pada Allah Subhaanahu wa ta'ala –Sang Pemilik setiap jiwa-, agar selalu melindungimu di dalam naungan keselamatan serta ridha-Nya.
Ketahuilah, bahwa aku sangat menyayangimu dan tak ingin kau kalah oleh liciknya jebakan dunia. Akhirnya, selamat memasuki masa-masa remaja, putriku! Jagalah selalu hati dan dirimu di setiap tempat dan waktu. Semoga Allah Subhaanahu wa ta'ala membimbing kita semua.
Ketika Benih Mulai tumbuh
Setetes cinta yang tertawan
Dan benih kasih yang tersipu
Berbalut asa dan doa
Hingga tibalah tiupan ruh
Jadilah,... Maka jadilah kamu!
Putriku terkasih,...!!
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Bahkan ketika kedipan mata serta hembusan nafas yang keluar dari tubuh fana hilang dihisap oleh alam sekitar. Kita tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk sekali lagi mengedipkan mata. Bahkan kita tak bisa menjamin pada diri sendiri untuk sekedar bisa menarik nafas yang sama pada detik berikutnya, kecuali hanya dengan izin Sang Empunya hidup hingga Allah Subhaanahu wa ta'ala memberikan iradahNya. Dan sesungguhnya, takdir jualah yang telah menuntunmu hingga di titik ini.
Maka begitulah yang telah terjadi di saat itu. Masa-masa di mana benih cinta kedua orang tuamu dipersatukan dalam sebuah ikatan yang sakral. Hingga Allah Subhaanahu wa ta'ala pula yang telah menciptakan dan menumbuhkembangkan benih suci dari buah kasih itu bersama hujan cinta-Nya. Menjaga serta merawatmu dari detik ke detik dalam pelukan rahim kasih sayang. Lalu waktu pun terus berlalu sampai tiba sebuah hari saat semua orang di sekeliling berharap-harap cemas saat menantikan kehadiranmu. Dan kepadamu, ingin ku sampaikan sebuah firman Allah Subhaanahu wa ta'ala tentang kehadiran seorang anak sepertimu bagiku:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّھَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِیمٌ
"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28)
Itulah faktanya! Bahwa kehadiranmu yang sangat membahagiakan itu hakekatnya adalah benar-benar hanya sebagai ujian dan cobaan semata. Dengan ilmuNya, telah Dia percayakan engkau dalam asuhan kami. Maka, kau pun harus paham bahwa untuk mengemban amanah berat itu memerlukan suatu proses serta cara yang tepat. Agar ketika tiba waktunya nanti untuk mempertanggung jawabkanmu dihadapanNya, aku akan bisa tersenyum sekaligus membanggakan dirimu.
Selanjutnya, tak ada lagi keinginan lain dalam diriku kecuali cita-cita untuk membawamu kepada jalan cahaya yang telah disediakanNya. Hari depanmu yang -bahkan kami sendiri belum tahu- itu harus mampu kau lalui dengan baik. Dan khusus untukmu, wahai putriku terkasih, jadikan segala hal yang telah berlalu itu sebagai kekuatan untuk menyongsong hari esok milikmu yang jelas belum bisa kami bayangkan.
Sekuntum Kembang di Padang Ilalang
Ilalang yang terhampar 
Desau angin dan dengung kumbang-kumbang
Angin zaman memang telah berubah arah
Sampai waktu milikmu akan tiba
Jangan pernah hilang wangimu tersia-sia
Hari ini, waktu telah mengantarmu pada kedewasaan yang begitu mempesona. Masa berganti rupa dan usia menapak dewasa. Tak terasa, kau telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Di depan sana, gerbang dunia luar yang terbuka lebar-lebar telah siap menyambutmu dengan segenap kegenitan serta gemerlap yang menggoda. Sungguh, melepaskanmu di tengah masyarakat yang begitu awam terhadap syariat Islam, selalu membuatku bimbang.
Menyadari bahwa taring-taring tajam kehidupan yang menganga itu selalu siap menerkammu, memaksaku untuk sekali lagi mengingatkanmu. Tapi kau pun harus tetap melangkah ke depan. Oleh sebab itu, dengarkanlah pesanku, wahai putri tercinta! Perhatikanlah segala fenomena di sekelilingmu yang bisa membuatmu kalah oleh kehidupan. Sudahkah kau menyadarinya?
Media Amoral
Ketahuilah Putriku,...!!
Kau sedang hidup pada sebuah zaman di mana waktu dan tempat yang seolah telah menjadi sebuah dimensi yang serba mudah diakses. Tak ada yang tak diketahui oleh siapa pun tentang sesuatu yang sedang terjadi di belahan bumi lain pada saat bersamaan. Berbagai macam kecanggihan teknologi telah memungkinkan siapa pun untuk menyampaikan apa yang diinginkannya pada orang lain. Termasuk fasilitas informasi serta telekomunikasi yang telah berkembang dengan sedemikian cepatnya. Maka telepon genggam, televisi, radio, sampai dengan internet telah menjadi sarana yang umum di dalam menyebarkan informasi sekaligus propaganda. Arus informasi yang berasal dari segala macam sumber dan kepentingan akan sangat mudah membentuk kepribadian serta pola pikirmu bila kau tak memiliki benteng yang kuat.
Belum lagi dengan fenomena kemunculan media-media cetak tak bermoral yang semakin hari semakin mudah ditemukan di jalanan. Majalah, surat kabar, tabloid, sampai dengan komik dan novel yang berjejer manis cuma berisikan cerita-cerita hasutan bagi jiwa serta impian semu. Dan itu bisa sangat mudah untuk kau dapatkan di setiap tempat. Akhirnya, kenyataan itu hanya semakin menambah runyamnya wajah duniamu saat ini.
Kau pun juga harus mengerti bahwa masyarakat yang ada di sekitarmu adalah sekumpulan orang-orang yang ‘sakit’. Masyarakat yang tampak baik-baik saja itu sebenarnya adalah sebuah bangunan rapuh yang bisa dihempaskan dengan mudah kapan saja, bahkan oleh tiupan angin yang lembut sekalipun.
Ketika tayangan-tayangan televisi serta film-film barat yang sekuler telah menjadi tontonan wajib sekaligus "trade mark" bagi identitas generasi masa kini. Dan tokoh panutan para remaja adalah para bintang film, artis, serta olah ragawan yang nota bene merupakan orang-orang yang mungkin belum pernah bisa merasakan makna hidup yang sejati. Maka perlahan namun pasti, sebuah peradaban telah bergeser. Nilai-nilai kehidupan, etika religius serta pola pikir yang sehat sedang terancam keberadaannya untuk kemudian digantikan oleh sebuah tatanan serta nilai-nilai baru yang –ironis-nya merupakan "produk gagal" di negara asalnya. Ya, paham-paham sekulerisme, hedonisme, nihilisme, materialisme serta free sex sesungguhnya merupakan produk sampah dari sebuah peradaban yang mengaku "modern".
Besarnya angka kriminalitas, semakin tingginya tingkat depresi serta keresahan yang tak tersembuhkan di kalangan masyarakat barat adalah bukti-bukti nyata sekaligus efek langsung dari penerapan semua paham-paham tersebut. Dan ketika menyadari bahwa tatanan itu telah gagal, maka mereka justru berlomba-lomba untuk mencari "pasar" baru bagi ide-ide sampah tersebut agar laju roda perekonomian serta rencana besar yang sedang mereka susun tetap bisa berjalan sesuai rencana.
Maka, itulah yang sedang kita lihat di sekeliling kita hari ini. Wajah Barat yang ditiru habis-habisan oleh sebagian besar anak muda. Citra "maju" dan "modern" sepertinya cukup ampuh untuk menarik para remaja itu. Parahnya, melalui media yang semakin beragam dan canggih, segala macam kegagalan itu bisa tersaji secara apik, indah dan sangat menggiurkan bagi pemirsanya. Tentu saja, semuanya itu memang telah direncanakan secara matang oleh musuh-musuh Allah Subhaanahu wa ta'ala dalam upaya abadinya merongrong umat Islam dari dalam. Mengenai hal ini, Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah mengingatkan kita:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ
تَبِعْتُمُوْھُمْ قُلْنَا یَا رَسُوْلُ اللهِ اَلْیَھُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟!
"Sungguh kalian akan mengikuti tradisi dan budaya umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta hingga jikalau mereka masuk ke dalam liang dhab (sejenis biawak), maka kalian akan mengikutinya!! Kami bertanya, " Wahai Rasulullah! Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau bersabda, "Siapa lagi?!" (HR. al-Bukhari, no.22/298)
Putriku tercinta,...!!
Jangan kau sia-siakan waktu-waktu senggangmu dengan nongkrong di depan TV atau melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan keuntungan duniawi dan akhirat. Gunakanlah waktumu untuk belajar, memperdalam ilmu agamamu, membaca, menulis ataupun kegiatan yang bermanfaat lainnya.
Emansipasi Salah Kaprah
Putriku tercinta,...!!
Musuh-musuh Islam itu tak pernah sedetik pun beristirahat untuk memikirkan cara-cara agar agama Islam serta umatnya semakin terpuruk dari zaman ke zaman. Mereka tidak pernah menyia-nyiakan kelengahan serta kebodohan yang melanda hampir seluruh masyarakat Muslim. Secara perlahan namun pasti, mereka dengan licik telah menggunakan cara-cara yang sangat orientatif untuk bisa mempengaruhi proses keberlangsungan pendidikan serta pengajaran di kalangan wanita Muslim. Secara halus mereka terus menerus meniupkan angin surga emansipasi di kalangan kaummu, para wanita. Padahal di balik semua itu, rencana besar mereka adalah hendak menggiring kaum wanita itu ke lembah penindasan serta menjebloskannya ke dalam jurang kehancuran yang menyesatkan.
Tahukah kau putriku, bahwa emansipasi sebenarnya diawali dengan tuntutan para wanita di Eropa akan persamaan gaji serta jam kerja antara kaum wanita dan lelaki yang sama-sama bekerja pada satu perusahaan. Wacana yang mulai santer bersamaan dengan berdirinya gerakan wanita di Eropa itu akhirnya meluas dan merambat pada bidang-bidang lain yang secara spontanitas -atau memang sengaja- dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu.
Lalu lebih jauh, tuntutan atas persamaan hak tersebut telah bergeser menjadi tuntutan atas ‘perusakan’ hak dari kaum lelaki. Misalnya, pada mulanya kaum wanita menuntut hak untuk bebas memilih pasangan hidupnya, seperti yang berlaku atas kaum lelaki. Namun kemudian hak tersebut bergeser menjadi kebebasan untuk menyerahkan dirinya kepada siapa saja yang mereka kehendaki. Maka dari itu, selalu berhati-hatilah dengan apa saja yang hendak engkau perbuat, terlebih dengan masalah yang satu ini. Sebab Allah Subhaanahu wa ta'ala juga telah mengingatkan dalam firmanNya,
وَلَا تَقْفُ مَا لَیْسَ لَكَ بِھِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْھُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya." (Al-Isra: 36)
Maka sudah menjadi pemandangan yang sangat umum di sekelilingmu bila pada malam hari, masih banyak para wanita yang berkeliaran sendirian atau berkelompok, mereka sedang berangkat maupun pulang dari tempat kerja. Lalu para buruh dan pekerja wanita yang telah terbiasa mengerjakan pekerjaan laki-laki di setiap sudut pabrik. Sungguh, jelas bukan begitu cara memaknai posisi wanita yang sebenarnya dalam sebuah posisi yang terhormat.
Masih ingatkah kau dengan kisah Khadijah radhiyallahu‘anha dan kisah Aisyah radhiyallahu ‘anha? Keduanya termasuk wanita yang sesungguhnya pantas menyandang gelar sebagai "wanita sukses". Bahkan dengan keharumannya, sampai saat ini pun setiap zaman masih ikut merasakan pesona abadi serta aroma wangi dari sebuah kualitas sejati wanita Muslimah. Lalu, masihkah kau ingin mencari teladan-teladan lain yang jelas-jelas kedudukannya jauh berada dibawah kedua wanita yang mulia itu?
Sungguh, Khadijah radhiyallahu ‘anha, Sang First Lady itu adalah seorang wanita karier sekaligus istri tersukses yang semestinya bisa menjadi teladan bagi siapa pun juga. Ketokohan, kekuatan, kedermawanan, serta keberhasilannya dalam bisnis perdagangan telah terbukti. Diiringi pula oleh kesuksesannya dalam mendampingi sang suami yang menjadi seorang pemimpin umat. Sebuah prestasi tak tertandingi oleh wanita lain di zaman mana pun.
Ataukah kau tak ingin seperti Aisyah radhiyallahu ‘anha yang sukses menjadi pendidik sekaligus pemberi teladan pada kaumnya pada saat dan setelah suami tercinta meninggalkannya? Sang Humaira yang selalu cekatan dalam membantu tugas suami, siaga dan lincah dalam mendukung "program-program" suami yang sekaligus seorang nabi dan ‘presiden’ tanpa pernah meninggalkan fungsi sejati seorang istri? Keduanya termasuk wanita karir sejati, wahai putriku! Keduanya termasuk pahlawan dan penegak kehormatan sejati bagi kaumnya. Keduanya pula yang selalu mampu menempatkan posisi kaum wanita pada tingkat tertinggi tanpa pernah mengurangi sedikit pun derajat serta kehormatannya.
Maka dengarlah, putriku! Janganlah pernah sekali-kali kau tergoda oleh hembusan emansipasi yang selalu gencar disampaikan oleh orang-orang di sekitarmu. Karena sesungguhnya, tujuan utama dari jargon itu bukanlah untuk menyelamatkan ataupun membebaskanmu dari "jerat tali penindasan" melainkan justru untuk menghancurkan dirimu dan agamamu dari dalam.
Ikhtilath Tanpa Batas
Putriku sayang,...!!
Tak bisa disangkal lagi bahwa saat ini, sulit sekali menemukan tempat yang bebas dari bercampur baurnya antara dua jenis manusia yang berbeda. Ikhtilath yang terjadi di segenap aspek kehidupan telah berlangsung pada tingkatan yang sangat sulit untuk diubah. Dari ruang-ruang sekolah, kampus, perkantoran, pabrik bahkan sampai pada tempat sarana umum serta transportasi pun tak lepas dari budaya itu.
Kondisi masyarakat yang apatis serta awam terhadap ilmu agama, ditambah lagi dengan kuatnya pengaruh budaya western yang tak pernah selesai membawa 'angin budaya'nya seakan telah menjadi mode baru yang wajib ditiru. Sekaligus menjadi legitimasi bagi tradisi yang menyesatkan tersebut. Di satu sisi, tak dipungkiri pula bahwa masih banyak orang-orang "pintar" di belakang pembuat kebijakan itu yang memandang bahwa 'kumpul-kumpul' seperti itu merupakan sarana bagi terwujudnya sebuah hubungan yang bersih antara kedua jenis yang mana akan mampu menjadi penjernih naluri antara keduanya. Meski sesungguhnya, sudah sangat jelas terlihat akibat-akibat dari budaya pergaulan bebas itu. Yang tentu saja bisa dijadikan pelajaran oleh siapa pun juga yang mau sadar dan mengerti tentang bahaya ikhtilath.
Banyak sudah hasil penelitian, baik di dalam maupun di luar negeri yang memaparkan betapa tragis dan mengerikannya kondisi masyarakat yang diakibatkan oleh pergaulan bebas. Institusi-institusi pendidikan, perkantoran atau-pun yang lainnya telah menjadi ladang yang sangat subur bagi terus tumbuh dan berkembangnya paham yang sangat berbahaya ini. Karena pada kenyataannya, ikhtilath atau percampuran bebas antara dua jenis ini merupakan unsur paling menentukan untuk terjadinya masalah-masalah seksualitas, penderitaan psikologis, serta rangsangan naluri.
Dan di sisi lain, hal-hal semacam itu sama sekali belum dan tidak akan pernah terbukti mampu menjernihkan naluri seperti apologi dari beberapa orang "pintar" tadi. Kemudian muncullah akibat-akibat lanjutan dari kondisi yang mengenaskan itu, di tengah-tengah masyarakat yang bingung. Maraknya realitas kehamilan di luar nikah, aborsi, pemerkosaan, bahkan sampai dengan kasus-kasus bunuh diri serta pembunuhan yang tidak jarang dilatarbelakangi oleh kondisi pergaulan yang sangat bebas itu.
Tatanan masyarakat yang porak poranda, etika moral yang tercabik-cabik serta rasa malu yang sudah terangkat benar-benar telah memunculkan kekhawatiran yang dalam akan masa depan sebuah kehidupan. Padahal, andai saja kaum Muslimin benar-benar setia dan istiqamah dalam memegang teguh konsep Islam secara benar dan kaffah, maka sudah barang tentu pengaruh-pengaruh ideologi itu tidak akan masuk apalagi sampai merusak ke dalam jiwa, akal dan pikiran mereka.
Di sisi lain, kaum Muslimin semestinya juga harus kukuh dalam menghadapi segala tipu daya kaum non Muslim yang memang tak akan pernah berhenti sebelum tercapai tujuannya. Bahkan Allah Subhaanahu wa ta'ala sendiri telah memberikan jaminanNya atas kemenangan agamaNya dari tipu daya mereka, dengan syarat bahwa kaum Muslimin harus tetap istiqamah dalam menjujung tinggi sikap sabar dan taqwa. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا یَضُرُّكُمْ كَیْدُھُمْ شَیْئًا
"Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu." (Ali Imran:120)
Sebab Mekarmu Hanya Sekali
Telah puas kau jaga
Mekarnya kuntum nan dinanti
Wangi bertabur sari madu
Pesona bening takkan pernah terganti
Ilalang iri belalang dan kumbang menanti
Putriku tercinta,...!!
Ke mana pun langkah akan kau bawa, sesungguhnya bumi tempat kau berpijak akan selalu menjadi saksi bagimu kelak di hari perhitungan. Tatkala godaan dan rayuan dunia yang semakin hari jelas semakin berat akan kau temui kelak di kemudian hari. Maka, selalu ingatlah bahwa kau adalah bagian dari komunitas makhluk mulia yang diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Seorang penghuni alam yang tak layak untuk berbuat kemungkaran di atas amanah berat yang terlanjur dipikulkan. Sebuah amanah besar yang bahkan gunung-gunung pun tak sanggup memikulnya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَیْنَ أَنْ یَحْمِلْنَھَا وَأَشْفَقْنَ مِنْھَا
وَحَمَلَھَا الْإِنْسَانُ إِنَّھُ كَانَ ظَلُومًا جَھُولًا
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab: 72)
Namun demikian, Allah Subhaanahu wa ta'ala pun tak pernah melepaskan umat manusia begitu saja tanpa bekal yang memadai. Hingga Allah Subhaanahu wa ta'ala menganugerahkan bagi seluruh umat manusia yang ada didunia ini kelebihan-kelebihan yang bila mampu digunakan sesuai dengan ketentuanNya, maka amanah besar itu akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Sungguh, tak ada keraguan sedikit pun untuk menyadari bahwa setiap insan itu diciptakan dalam kondisi yang paling baik. Tanamkanlah dalam jiwamu bahwa kau adalah terlahir sebagai makhluk yang sempurna. Dengarkanlah jaminan dari Allah Subhaanahu wa ta'ala sendiri tentang betapa paripurnanya penampilan fisik dari makhluk bernama manusia, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa ta'ala,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِیمٍ
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4)
Belum lagi dengan anugerah akal yang diberikanNya bagi umat manusia agar mampu memilah dan memilih kebenaran sekaligus sebagai pembeda antara mereka dengan makhluk yang lainnya. Maka, Islam sebagai pedomanmu itu pun telah menyeru pada setiap diri agar selalu mempergunakan pikiran dan akalnya dalam upaya untuk menjadi makhluk yang paling mulia di sisiNya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
الَّذِینَ یَذْكُرُونَ اللَّھَ قِیَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِھِمْ وَیَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ ھَذَا بَاطِلًا
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia." (Ali Imran: 191)
Di perjalanan hidupmu yang bakal kau tempuh, akan banyak sekali kau temui bermacam godaan serta tipu daya setan yang tanpa kenal lelah berusaha untuk selalu merayumu. Mereka, para setan itu tak akan pernah menyerah sampai tercapai apa yang mereka inginkan. Dengan kondisi masyarakat yang masih sakit seperti itu, maka sudah sepantasnyalah kau harus ikut serta dalam upaya-upaya untuk memperbaikinya.
Jadi, seberat apa pun godaan serta rintangan yang akan kau hadapi kelak di sepanjang perjalanan hidupmu nanti, maka sesungguhnya Dia pun telah memberikan jalan kemudahan dan keselamatan bagi setiap hambaNya. Melalui para rasul dan nabiNya, Dia telah menurunkan segala aturan yang menjadi jalan keluar bagi semua permasalahan yang datang di setiap zaman. Kaidah-kaidah itulah yang selama ini dikenal sebagai agama. Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa ta'ala menurunkan aturan-aturanNya tersebut sebagai penjaga dan pemelihara manusia agar terbebas dari jurang kesengsaraan dan kesulitan. Dan justru bukan malah sebaliknya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
مَا أَنْزَلْنَا عَلَیْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى ( 2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ یَخْشَى
"Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)." (Thaha: 2-3)
Oleh karena itu wahai putriku kembalilah kepada al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, pelajarilah, hayatilah, dan kemudian amalkanlah dengan penuh istiqamah.
Hijab
Putriku, pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa sesungguhnya kau diciptakan dengan fitrah yang sangat mempesona? Pernahkah kau sadari betapa keberadaanmu di muka bumi ini adalah juga sebagai fitnah bagi kehidupan dan orang-orang yang tak mengerti? Maka ingatlah selalu pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
"Setelah meninggal dunia, aku tidak meninggalkan fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada masalah wanita." (HR. al-Bukhari, no. 4808 dan Muslim, no.2740, 2741)
Lihatlah...! Betapa ternyata kalian semua, para wanita sepertimu itu, adalah sebuah permasalahan yang harus disikapi secara sangat hati-hati oleh kaum pria. Dan tentu saja, kondisi ini pun menuntut konsistensi sikapmu agar benar-benar mampu menempatkan diri pada posisi yang semestinya. Dengan penampilan pesona performa fisikmu, serta kecenderungan untuk selalu memperlihatkan kecantikan pada orang lain, maka sudah selayaknya, kaum sepertimu memiliki jalan keluar yang aman, sehingga dapat terhindar dari fitnah yang telah diperingatkan itu
Wahai putriku tersayang, Sungguh! Jangan pernah sekali-kali kau terperosok pada jalan yang hanya mengeksploitasi pesona dan kecantikanmu sebagai sarana setan untuk men-jerumuskan dirimu sendiri atau bahkan orang lain ke dalam neraka Jahanam. Na'udzubillah! Sebab bagaimanapun, Tuhanmu sangat menyayangi dan selalu berusaha untuk menjagamu dari segala keburukan dunia dengan aturan-aturan yang telah diturunkanNya. Dia pun takkan pernah membebankan sebuah kewajiban yang kamu tak sanggup memikulnya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
لَا یُكَلِّفُ اللَّھُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَھَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al-Baqarah: 286).
Maka karena kasih sayangNya pula, Dia mewajibkan pada kaummu untuk mengenakan busana kehormatan (jilbab) yang akan dapat menutupi aurat serta melindungi dirimu dari pandangan orang-orang yang tidak berhak. Tak ada sesuatu yang lain dari perintah itu selain kebaikan yang akan kaummu peroleh. Sebab dengannya, kalian akan dapat lebih mudah dikenali sebagai wanita baik-baik, sehingga tidak diganggu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ یُعْرَفْنَ فَلَا یُؤْذَیْنَ وَكَانَ اللَّھُ غَفُورًا رَحِیمًا
"Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 59)
Putriku shalihah,...!!
Menutup aurat sebagaimana ketentuan Allah Subhaanahu wa ta'ala dan RasulNya adalah sama pentingnya dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa ataupun zakat. Yang apabila tidak dilakukan, maka akan mempunyai konsekwensi serta sanksi berat yang telah ditentukan. Perintah Allah Subhaanahu wa ta'ala tentang masalah hijab (jilbab) juga senantiasa diawali dengan kata-kata "wanita yang beriman." Maka, sungguh ini menunjukkan pada siapa pun juga tentang betapa asasinya kewajiban yang satu ini bagi setiap wanita Mukminah sepertimu. Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ یَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِھِنَّ وَیَحْفَظْنَ فُرُوجَھُنَّ وَلَا یُبْدِینَ زِینَتَھُنَّ إِلَّا مَا ظَھَرَ مِنْھَا
"Katakanlah kepada para wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kehormatannya, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya." (An- Nur: 31)
Mungkin, apabila syariat yang indah ini bisa terlaksana sesuai dengan yang semestinya, maka tak akan pernah lagi ditemui pelecehan-pelecehan atas kaummu, termasuk kasus-kasus perkosaan yang seringkali terjadi di tengah-tengah masyarakat. Agamamu telah mengatur permasalahan hijab ini sedemikian rupa, hanya demi untuk meninggikan derajat serta memelihara kehormatan dan kesucian mereka sendiri sebagai wanita Mukminah. Syariat Allah Subhaanahu wa ta'ala itu benar-benar menginginkan posisi wanita bisa berada pada kedudukan kemanusiaan yang mulia serta tidak terjerembab sebagai komoditas yang diperjualbelikan dalam pengertian yang luas. Di mana pada gilirannya nanti akan dapat menunjang keharmonisan hidup untuk mencapai keberhasilan sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dan satu hal yang juga mesti kau ingat adalah bahwa hijab bukanlah sarana untuk memasung segala potensi serta bakatmu. Sebab kewajiban-kewajiban lain seperti menuntut ilmu, beramar ma’ruf serta kewajiban untuk bermasyarakat secara baik dan syar’i masih tetap bisa kau lakukan sepanjang masih memenuhi kriteria serta hukum-hukum syariat yang ada.
Sahabat Sejati dan Lingkungan Pergaulan
Setelah kau lakukan kewajiban hijab, maka paling tidak telah kau pasang sebuah perlindungan awal dan mendasar untuk mulai menapak masuk ke dalam kehidupan yang semakin rumit. Tentu saja kau tak harus berjuang sendirian disana. Sebab, hanya dengan teman serta lingkungan yang baiklah, maka kau akan mampu untuk mempertahankan nilai-nilai agama yang selama ini telah kau pegang.
Janganlah pernah berhenti mencari sebuah pertemanan tulus serta lingkungan yang baik demi keselamatan agamamu dan kesucian dirimu. Karena siapa pun tak akan sanggup bertahan sendirian di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat. Kau akan tetap membutuhkan seorang teman serta lingkungan yang tepat untuk bisa memperbaiki kualitas hidup serta imanmu di masa-masa yang akan datang. Ingatlah, bahwa tidak semua orang bisa kau jadikan sahabat atau teman. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita tentang hal ini melalui lisannya yang suci:
اَلْمَرْءُ عَلَى دِیْنِ خَلِیْلِھِ فَلْیَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ یُخَالِلُ.
"Seseorang itu tergantung perilaku dan kebiasaan temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia akan berteman." (HR. Abu Dawud, no. 4833 dan at-Tirmidzi)
Dan dengarlah wahai putriku! Bahwa sebaik-baik persahabatan itu adalah yang bisa memberikan manfaat bagimu di bidang agama sekaligus dunia. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri mempertegas perlunya sikap kehati-hatian di dalam memilih teman dengan sabdanya:
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ یَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.
"Janganlah bersahabat, kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa." (HR. Abu Daud, no. 4837, dan at-Tirmidzi, no.2395)
Seorang remaja putri yang baik sepertimu, bukan tak mungkin akan bisa terpengaruh oleh seorang sahabat yang buruk akhlak dan moralnya. Sungguh, sahabat seperti itu hanya akan membawamu pada kondisi yang menjerumuskan. Bahkan tidak mustahil, melalui lingkungan pergaulan semacam itu pada akhirnya akan memunculkan paradigma-paradigma ‘modern’ yang menyesatkan seperti; istiqamah itu kuno, jilbab itu hanya tradisi, serta pandangan kampungan, bahwa ‘budaya maju’ itu justru pelaksanaan ikhtilath, tabaruj, serta mempertontonkan kemolekan dan kecantikan tubuh pada siapa saja dengan melepaskan baju-baju takwa (hijab).
Begitulah! Sehingga tanpa terasa dan dengan perlahan-lahan, kau mulai tertarik dengan semua argumen manis dan ‘masuk akal’ itu, untuk kemudian tanpa sadar mulai melaksanakannya sedikit demi sedikit. Tanpa pernah menyadari bahwa budaya baru itu sebenarnya merupakan rekayasa cermat dan terencana dari musuh-musuh Allah Subhaanahu wa ta'ala untuk menyeretmu ke dalam jurang kenistaan. Dan pada akhirnya kelak kau akan menyesalinya. Namun saat itu penyesalan tidak lagi berguna. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
یَا وَیْلَتَا لَیْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِیلًا ( 28 ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّیْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
"Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur'an ketika al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia. " (Al-Furqan: 28-29).
Sungguh, jangan pernah sekali-kali kamu mencoba untuk berteman dengan seseorang yang rendah ilmu agama serta akhlaknya kecuali bila kamu berada pada posisi yang lebih kuat untuk bisa memberinya nasehat serta peringatan. Sebab telah diwajibkan pada siapa pun untuk mengajarkan kebaikan serta menghalangi tindak kemungkaran sebatas kemampuan yang ada. Dan Allah Subhaanahu wa ta'ala telah menjamin mereka –orang-orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar- itu sebagai golongan dari orang-orang yang beruntung. Allah Subhaanahu wata'ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ یَدْعُونَ إِلَى الْخَیْرِ وَیَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَیَنْھَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ ھُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf serta mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran: 104)
Dan di dalam kondisi masyarakat yang sudah tidak lagi mempertimbangkan nilai akhlak serta masalah syariat sebagai landasannya, maka tidak ada cara lain untuk menggapai keselamatan itu selain terus berupaya memperkuat pertahanan iman dari dalam diri sendiri. Inilah faktor yang paling penting dan sangat menentukan bagi berhasil atau tidaknya perjalananmu melalui tahapan ini.
Sabar dan Istiqamah
Akhirnya, puncak dari segala upaya dan ikhtiar adalah terus bersabar dan berusaha istiqamah. Aku sangat paham bahwa saat ini di sekelilingmu telah mengepung segala kemaksiatan yang seringkali tak mampu kau hindari. Bangku-bangku sekolah dan kampus, fasilitas umum dan sarana transportasi, bahkan sampai di sudut-sudut ruang perkantoran serta pabrik, telah dipenuhi oleh budaya percampuran bebas yang telah berlangsung semenjak lama. Praktek ikhtilath di tengah-tengah masyarakat memang telah menjadi sebuah kebiasaan yang dipandang wajar.
Jelas, akan selalu ada saat-saat di mana kau merasa sedih dan sendiri. Tapi kau pun tahu, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seorang manusia maksum yang doanya selalu diterima pun pernah mengalaminya. Sebab, ujian dan cobaan akan selalu membuatmu lebih matang dan dewasa dalam menjalani kehidupan. Jadi, tetaplah kau bersabar dengannya.
Selanjutnya, jangan pernah berhenti untuk selalu meminta pertolongan dan jalan keluar yang terbaik, agar bisa segera keluar dari segala permasalahanmu. Bukankah Allah Subhaanahu wa ta'ala sendiri yang menyatakan bahwa:
اسْتَعِینُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّھَ مَعَ الصَّابِرِینَ
"Mintalah pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:153)
Putriku terkasih!
Sesungguhnya takkan dikirimkan oleh Allah Subhaanahu wa ta'ala sebuah beban yang tak mampu ditanggung oleh hambaNya. Sebab memang hanya Dia jua yang paling mengetahui kondisi serta kekuatan dari setiap makhlukNya. Tentu saja bahwa setiap amal yang mengarah pada kebajikan akan selalu menemui ujian. Jadi, ketika sebuah ujian berat serta musibah tiba-tiba datang di tengah upayamu untuk berbuat baik, maka cukup maknailah semua itu bahwa Allah Subhaanahu wa ta'ala ternyata masih memperhatikanmu. Jangan pernah lagi merasa bahwa kau sendirian. Karena ujian seperti itu juga dialami oleh orang-orang yang telah memiliki kualitas iman yang sangat tinggi sekalipun. Dan semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula angin yang akan menghembusnya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ یُتْرَكُوا أَنْ یَقُولُوا آَمَنَّا وَھُمْ لَا یُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?" (Al-Ankabut:2)
Akan banyak rintangan serta ucapan dan pandangan sinis dari masyarakat atas setiap tindakan kita untuk menuju kebaikan. Seorang Muslimah yang harus rela meninggalkan sekolah, pekerjaan, atau bahkan keluarganya sendiri hanya karena keinginan untuk berbusana secara kaffah adalah contoh nyata dari ujian yang sering kita dengar di keseharian. Maka, ketika ujian yang datang silih berganti itu terus bergulir seperti tak-kan pernah berhenti dan semakin terasa memerihkan, janganlah pernah kau merasa putus asa dari rahmat Allah Subhaanahu wa ta'ala. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
وَلَا تَیْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّھِ إِنَّھُ لَا یَیْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّھِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf : 87)
Hijrah
Hijrah secara sederhana bermakna pindah. Berpindah dari suatu tempat yang lama menuju tempat baru. Berpindah dari lingkungan yang buruk kepada lingkungan yang lebih baik. Atau berpindah dari kondisi jahiliyah menuju jiwa yang terang benderang. Putriku, ketika semua cara telah kau lakukan dan ternyata semua itu masih belum menunjukkan sebuah hasil yang diharapkan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan sebuah teladan untuk melakukan prosesi hijrah.
Putriku tercinta, ...!!
Berhijrah dalam kehidupanmu lebih dimaksudkan pada kemampuan serta kemauanmu dalam upaya untuk memperoleh sebuah iklim yang kondusif bagi pengembangan agamamu. Ketika seorang Muslimah merasa tak nyaman lagi di dalam lingkungan pekerjaannya, atau ketika seorang siswi merasa bahwa lingkungan dan materi pendidikan yang ia terima tidak dapat memberikan pencerahan yang ia butuhkan. Atau bahkan ketika seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan keadaan mental anak-anaknya di tengah-tengah memburuknya tatanan masyarakat di sekitarnya. Maka sabar dan istiqamah kadang masih terasa belum cukup.
Begitupun denganmu! Di saat ikhtilath serta pergaulan bebas semakin merajalela di setiap sudut, sedangkan di satu sisi, kau tak mampu untuk melakukan sebuah perubahan, maka jalan yang paling baik untukmu di saat itu adalah dengan melakukan hijrah. Sedangkan Allah Subhaanahu wa ta'ala sendiri akan memberikan rahmatNya kepada orang-orang yang mau bersungguh-sungguh berjuang di jalanNya dengan keberanian yang kuat dan disertai kebijaksanaan demi untuk mendapatkan keridhaanNya. Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِینَ آَمَنُوا وَالَّذِینَ ھَاجَرُوا وَجَاھَدُوا فِي سَبِیلِ اللَّھِ أُولَئِكَ یَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّھِ وَاللَّھُ غَفُورٌ رَحِیمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang hijrah serta berjuang di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 218)
Wahai putriku,…!!
Ada banyak kisah pertaubatan serta pencerahan yang terjadi pada para muallaf (orang yang baru masuk Islam) di mana salah satu proses yang harus mereka lakukan adalah melaksanakan hijrah. Dengan hijrah bukan berarti kita melarikan diri dari masalah. Namun mencoba untuk menyusun kekuatan dan akan kembali bila saatnya telah tiba.
Dalam lingkup yang sederhana, hijrah bisa diartikan dengan mencoba untuk mengubah sikap, perilaku, kebiasaan serta cara berpikir yang sebelumnya cenderung bebas tanpa landasan hukum Allah Subhaanahu wa ta'ala berubah menjadi lebih bijak dan syar’i. Bila sebelumnya engkau telah mengenakan busana jilbab namun masih saja menampakkan bagian-bagian tertentu dari tubuh, maka sudah waktunya untuk memperbaiki kualitas berbusana itu dengan lebih menyempurnakannya. Bila sebelumnya kita hanya tertarik dengan buku-buku, majalah, atau media lain yang tidak memberikan manfaat bagi kekayaan batin, maka sudah waktunya pula untuk membuka wawasan dan cakrawala dengan mulai mengkonsumsi bacaan-bacaan yang bisa meningkatkan kualitas iman dan Islam.
Selanjutnya perlu kiranya untuk lebih menyuburkan lahan jiwamu dengan mulai membiasakan diri untuk membaca, memahami (tadabbur) dan mendengar-kan alunan bacaan al-Qur’an yang bisa memberikan ketenteraman serta kenyamanan jiwa. Demikian pula mendengarkan dan menyimak kaset, VCD dan DVD bernuansa Islam. Sebab peranan media audio akan terasa sangat efektif untuk mengkondisikan hati agar selalu berada pada posisi yang ‘sehat’.
Maka hal-hal seperti itu akan bisa menjadi sebuah alter natif untuk memenuhi kebutuhan terse-but. Pada masa sekarang ini sudah banyak bermunculan kaset-kaset dan VCD Islami, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Namun demikian kita tetap harus selektif di dalam memilihnya.
Dan Kumbang Terpilih Menyuntingmu
Cahaya cinta yang diberkati
Dibalut karunia dan ridha Ilahi
Inilah hari yang dinanti
Ketika madu suci temukan kumbang sejati
Menjaga dan memiliki wangimu dengan namaNya
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu itu!
Wahai putriku terkasih, telah datang seorang pemuda berhati jernih ke hadapanku. Matanya yang jujur dan lisannya yang santun telah memikatku untuk bertanya padanya. "Apa yang kau inginkan dari putriku, wahai pemuda?". Dan ketika dijawabnya bahwa ia inginkan engkau sebagai pendamping hidupnya untuk bersama-sama mengabdi padaNya, aku bisa tersenyum lega. Dan saat disampaikannya asa untuk memiliki para generasi rabbani serta pejuang-pejuang mungil yang akan lahir dari rahim sucimu, aku telah menangis bahagia didalam hati.
Sungguh, setelah perjuangan beratmu untuk tetap bertahan di tengah padang yang penuh dengan ilalang liar telah usai, maka sudah waktunya seekor kumbang yang terpilih datang untuk menyuntingmu. Dengan pesona wangimu yang suci, serta keanggunan dan kehormatanmu yang terus kau jaga tanpa cela, telah menempatkan sosokmu pada posisi wanita yang layak untuk dipilih. Namun satu hal yang perlu kau ingat adalah, bahwa setelah mekarnya kuntum milikmu itu, maka perjuangan belumlah usai. Pernikahan adalah sebuah titik balik di mana medan perjuangan sudah berubah. Kau bukan seorang gadis lagi. Tanggung jawab, atensi serta wilayah perjuanganmu telah bertambah, kau harus mulai memikirkan keluargamu, anak-anakmu, serta suami. Maka, pesanku padamu, tetaplah kau jaga semerbak wangi yang telah kau jaga selama ini.
Akhirnya, semoga Allah Subhaanahu wa ta'ala senantiasa merahmati dan memberkahi pernikahanmu, keluargamu serta seluruh keturunanmu kelak di kemudian hari, sehingga pada waktunya nanti mereka juga akan tetap mampu menjalani kehidupan di waktu dan jamannya masing-masing sesuai dengan jalan Allah Subhaanahu wa ta'ala yang telah ditentukan. Amin ya rabbal alamiin...
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin
Penulis: Haikal Hira Habibillah