Rabu, 29 Maret 2017

LIFE IS BEAUTIFUL (A lesson from a journey to India)




Sebuah cerita tentang hidup dari negeri India....

Saya pikir, hidup ini kayaknya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! 'Kerja menyebalkan', hidup tak berguna', dan nggak ada sesuatu yang beres!! banyak masalah...
Tapi semua itu berubah... sejak kemarin...Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita.

Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!!!
Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!! Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!!!

Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat..MENGEMIS...!!
Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan !! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu... mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan). Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya.

Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari. Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!!

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $0,25!! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi,punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN
.... Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga....

Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!!
Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR???
Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??

PS. kita tidak akan pernah merasa cukup bila kita terus melihat ke atas
"* Life is Beautiful *"


Catatan : mohon maaf sumber dari artikel ini dicopas dari dunia maya dan kebetulan sumbernya tidak tercatat, ini kuposting karena aku tertarik dengan ceritanya untuk berbagi dengan teman-teman sekalian

Selasa, 01 Maret 2016

Lima Salah Paham tentang Bersyukur



Artikel ini kuforward dari situs Bang Arvan yang merupakan motivator favoritku
 
 
Suatu hari di tahun 1999, Stephen King penulis Amerika Serikat terkenal mengalami kecelakaan lalu lintas cukup parah. Ia ditabrak oleh seorang pengemudi van tak jauh dari rumahnya.
King segera dilarikan ke rumah sakit dengan luka berganda di tangan dan kakinya, paru-parunya rusak, tulang rusuknya patah dan kulit kepalanya koyak. Pengemudi van luka parah dan akhirnya meninggal dunia.
King selamat dari kejadian itu dan ketika ditanya apa yang ia pikirkan, ia mengatakan bahwa ia bersyukur. “Kasih Tuhanlah yang membuat pengemudi van itu tidak sampai merenggut jiwa saya,” ujarnya.
Mengapa King–yang dijuluki Master of Horror–mensyukuri kecelakaan mengerikan itu? Bukankah ini merupakan musibah yang sangat berat baginya?
Pertanyaan ini sesungguhnya menunjukkan kesalahpahaman mengenai bersyukur. Ada lima kesalahpahaman orang terhadap bersyukur.
Pertama, bersyukur hanya dilakukan kalau kita sedang senang, kalau segala sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita. Banyak orang yang lupa bahwa bersyukur sesungguhnya juga perlu dilakukan di saat susah, karena kita tak pernah tahu apa yang tersembunyi di balik setiap musibah.
Segala sesuatu pastilah terjadi karena izin Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang pastilah akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi kita.
Semua hal yang buruk tetapi menghasilkan sesuatu yang baik sesungguhnya adalah hal yang baik. Persoalannya, semua itu perlu dilihat dalam kaca mata jangka panjang, karena boleh jadi secara jangka pendek hal itu tidak menguntungkan.
Kesalahpahaman kedua adalah kita sering bersyukur untuk hal besar, tetapi lupa bahwa ada ribuan hal kecil yang merupakan rahmat Tuhan untuk kita. Kita bersyukur ketika menang tender, naik pangkat, dan mempunyai anak.
Akan tetapi, kita lupa bersyukur bahwa kita masih mempunyai pekerjaan, bisa berjalan, bernapas, dan bisa tidur nyenyak. Semua hal itu sering kali kita anggap sepele, sebagai sesuatu yang sudah seharusnya.
Kesalahpahaman ketiga, ketika kita hanya bersyukur untuk hal yang kita dapatkan, padahal mestinya kita bisa bersyukur atas hal yang tidak kita dapatkan. Kita bisa selamat dalam perjalanan ke kantor atau pulang ke rumah, bukankah ini berarti kita telah melalui berbagai bahaya dengan selamat?
Kita bepergian ke mana-mana dengan pesawat terbang dan sampai hari ini belum pernah mengalami kecelakaan sedikit pun, bukankah itu keajaiban yang luar biasa? Kita tidak tertular penyakit yang berbahaya, serta berada dalam kondisi yang aman dan damai, bukankah ini betul-betul rahmat yang luar biasa? Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita dilanda perang saudara seperti yang terjadi di Suriah?
Keempat, kita sering menilai segala sesuatu ketika hal itu masih ada, padahal arti bersyukur adalah membayangkan ketika segala sesuatunya sudah tidak ada lagi. Ketika memiliki pekerjaan, kita mengeluh dan hanya memberikan nilai 6 atau 7 (dari skala 1-10) terhadap pekerjaan kita.
Kita mungkin juga hanya memberikan nilai yang sama pada bawahan kita. Namun saya berani mengatakan bahwa nilai tersebut pasti salah. Nilai yang sebenarnya baru akan kita rasakan ketika segala sesuatunya sudah hilang dari diri kita.
Kita sering undervalue terhadap apa yang kita miliki saat ini karena kita lebih fokus pada masalahnya, bukan pada anugerahnya. Berapa pun nilai yang kita berikan sudah pasti salah.
Kecenderungan undervalue ini perlu benar-benar kita sadari. Karena itu, untuk mendapatkan nilai yang sesungguhnya saya sarankan agar Anda menambahkan minimum 2 skor di atas penilaian Anda terhadap apa pun yang Anda terima hari ini.
Kesalahpahaman kelima, syukur sering diartikan sebagai cepat puas. Inilah yang membuat banyak pemimpin bisnis mengatakan pada saya bahwa syukur kurang tepat bagi dunia bisnis. Padahal menerima (acceptance) barulah separuh dari bersyukur. Bersyukur yang sejati adalah ketika kita juga mengeksplorasi (exploration) terhadap potensi yang kita miliki saat ini.
Potensi adalah hadiah terbesar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Tugas kita sesungguhnya menjelajahi semua potensi tersebut, kemudian memanfaatkannya bagi orang banyak.
Bersyukur adalah mengolah potensi tersebut semaksimal mungkin, dan tidak membiarkan ada potensi–sekecil apa pun–yang sia-sia dan tak termanfaatkan. Karena itu, selain acceptance syukur mengandung dimensi exploration.
Kalau bersyukur hanya diartikan dengan menerima apa yang kita peroleh, bisnis akan mandek dan stagnan. Bisnis yang baik adalah menerima pencapaian kita hari ini tetapi terus menjelajahi potensi kita untuk kepentingan orang banyak. Inilah bersyukur dalam arti yang sesungguhnya.

Selasa, 19 Agustus 2014

AMBILLAH WAKTU



Ambilah waktu untuk termenung...
Ambilah waktu untuk berdoa...
Ambilah waktu untuk tertawa...

Itulah sumber kekuatan...
Itulah kekuatan terbesar di atas Bumi...
Itulah alunan melodi jiwa...

Ambilah waktu untuk bermain...
Ambilah waktu untuk mencintai dan dicintai...
Ambilah waktu untuk memberi...

Itulah rahasia masa muda yang abadi...
Itulah anugerah Allah yang istimewa...
Sehari terlalu singkat untuk bersikap egois...

Ambilah waktu untuk membaca...
Ambilah waktu untuk bersahabat...
Ambilah waktu untuk bekerja...

Itulah mata air kebijaksanaan...
Itulah jalan menuju kebahagiaan...
Itulah harga kesuksesan...

Ambilah waktu untuk melakukan perbuatan kasih...
Itulah kunci menuju Surga
---
Kata2 ini terukir pada sebuah dinding rumah untuk anak-anak miskin di Calcuta, India

Rabu, 21 Agustus 2013

Ingin sukses, jangan bermental PENGEMIS

Salah satu ajaran Rasulullah saw, yang berkaitan dengan manajemen diri adalah Sukses dengan membiasakan diri untuk tidak bermental pengemis.
Salah satu hadis riwayat Abu Dawud, Nasai, dan Tirmidzi, dikisahkan bahwa seorang laki-laki dari golongan Anshor datang menghadap Rasulullah saw. Dia memohon agar Rasulullah saw memberinya sesuatu untuk dimakan.
Memang kamu tidak mempunyai sesuatu di rumah?”
tanya Rasulullah.
Tentu saja ada wahai Rasulullah. Saya masih mempunyai sehelai kain yang sebagiannya kami pakai dan sebagian lainnya kami hamparkan, serta sebuah gelas besar tempat kami minum air”.
Jawab laki-laki itu.
Nabi kemudian menyuruhnya membawa dan memperlihatkan barang-barang itu kepadanya. Si laki-laki Anshor itu lalu membawa barang itu dan menyerahkannya pada nabi.
Siapa yang akan membeli barang-barang ini?
kata nabi. Seorang laki-laki berkata,
Aku berani dengan harga satu dirham”.
Rasulullah menimpali,
“Siapa yang akan menambah lebih dari satu dirham?”.
Seorang laki-laki berkata,
Aku mengambilnya dengan harga dua dirham”.
Nabi kemudian memberikan dua barang itu kepada penawar terakhir dan mengambil dua dirham itu, lalu memberikannya kepada lelaki Anshor tersebut.
”Belikan makanan dengan salah satu dari dua dirham ini lalu berikan kepada keluargamu, dan belikan sebuah kapak dengan satu dirham lainnya kemudian bawalah kapak tersebut kepadaku”.
Si laki-laki Anshor itu pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW. Dia menyerahkan kapak yang baru dibelinya kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, Rasulullah SAW memberikan pegangannya, lalu bersabda,
“Pergi dan carilah kayu bakar, kemudian juallah. Aku tidak ingin sama sekali melihatmu selama lima belas hari”.
Setelah mengerjakan perintah Rasulullah saw itu, datanglah laki-laki Anshor itu membawa 10 dirham kemudian membeli makanan dengan sebagian dari uang itu. Rasulullah bersabda,
“Ini lebih baik daripada kamu meminta-minta karena hal itu hanya akan menjadikan noda di wajahmu pada hari kiamat nanti”.
Ada beberapa hikmah sangat penting yaitu;
Pertama, hindarkan sikap meminta, sebab bisa melemahkan kegigihan jiwa untuk menghadapi hidup ini;
Kedua, Isi perut kita dari hasil keringat sendiri agar halal prestatif, bukan halal karena belas kasihan orang, apalagi karena sebel;
Ketiga, Berani menghadapi resiko psikologis dengan cara ada rentang waktu kegigihan tidak merengek-rengek minta bantuan misalnya 15 hari seperti terapi psikologis yang dilakukan Rasululullah saw.

SUMBER : http://www.pradhana.net/ingin-sukses-jangan-bermental-pengemis/