Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

SELALU BERBUAT BAIK

 

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS.18:110)

 

Didalam hidup ini kita selalu mencari dan mencari, setelah kita menemukan apa yang kita cari, kita masih saja tetap mencari, apakah mencari ilmu, mencari harta, mencari jati diri, mencari jodoh dan sebagainya. Dan itu kita lakukan terus menerus sepanjang hidup kita, sampai ajal datang menjeput.

Mencari ini bisa positif dan bisa pula negatif, semua itu tergantung bagi akal dan pikiran kita. Secara naluriah manusia pada dasarnya punya keinginan untuk mencari yang baik, yang positif, namun terkadang karena keadaan, bisa berubah mencari yang negatif dan buruk, dan semua ini tetap tergantung dari suasana hati dan iman yang ada pada diri kita yang sebenarnya terbentuk sejak kita lahir dan mendapat pelajaran dan pengajaran dari hidup yang kita lalui.

Sebagai manusia kita dibekali akal dan pikiran serta nafsu yang  merupakan satu perangkat yang dianugerahkan Allah kepada kita.Dengan perangkat itu kita harus mendayagunakannya untuk melatih kepekaan terhadap segala sesuatu dan peristiwa yang kita alami. Setiap hari kita selalu menemukan hal yang baru yang kemudian menghantarkan kita untuk melakukan proses pencarian yang baru yang membuat kita belajar untuk lebih memaknai hidup ini, itulah hidup manusia yang selalu berproses.

Akhir hidup ini tidak ada yang mengetahui apakah akan berakhir dengan baik (Husnul Khotimah) atau sebaliknya (Su’ul Khotimah), apakah proses yang kita lakukan selama hidup ini sudah berjalan dengan baik atau tidak, kita hanya bisa menerka dan merasakan, Wallahu a’lam bi shawab, hanya Allah yang mengetahuinya, namun kita harus selalu yakin bahwa Allah itu Rahman dan Rahim, maka Allah akan selalu bersama kita dan selalu memberi clue pada kita, tergantung apakah kita peka atau tidak, cermat atau tidak.

Kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, ada yang baik dan buruk ada yang positif dan negatif, ada yang kita kira positif ternyata negatif dan adapula yang kita kira baik ternyata buruk. Ada yang menurut kita baik tetapi menurut orang lain tidak baik, demikian sebaliknya. Untuk itulah kita dikaruniai perangkat perangkat di atas. kita harus pandai memilah dan memilih mana yang baik dan benar, baik itu menurut kita maupun menurut orang lain dan tentu saja akan lebih baik dan harus adalah baik menurut Allah. Untuk mencapai itu semua kuncinya adalah selalu berbuat baik dalam hidup ini, dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja dan dalam situasi apapun juga.

Jadi... selalulah berbuat baik......

 

Wassalam

#bang ical


 

Jumat, 09 Oktober 2020

10 Tahun Aku Membencimu dan Setelah Itu Aku Mencintaimu Selamanya

Berikut kisah atau cerita sedih yang dapat memotivasi Anda dalam menjalani kehidupan berumah tangga, Kisah mengharukan atau kisah sedih ini tentang perjalanan cinta seorang istri yang tak pernah mencintai suaminya selama 10 tahun

perjalanan pernikahannya hingga sang Suami meninggal dunia, dan akhirnya ia menyadari betapa besar cinta dan kasih sayang yang diberikan sang suami untuknya selama ini, dulu ia menghabiskan sepuluh tahun untuk membenci suaminya, tetapi setelah Suaminya tiada Ia menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupnya untuk mencintai sang Suami.

 

kucopas dari salah satu blogger yang aku sudah lupa alamat blogspotnya (karena sudah lama sekali)  dengan maksud untuk renungan bagi kita semua, semoga manfaat

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

 

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Semoga cerita ini membawa manfaat, Allahumma aamiin…

Minggu, 20 September 2020

TAMAK, RAKUS ATAU SERAKAH

Tamak adalah sifat dimana seseorang selalu ingin beroleh banyak untuk dirinya sendiri terhadap harta benda. Tamak juga bisa diartikan serakah dan merupakan sifat yang sangat tercela karena merugikan orang lain. Mengapa merugikan orang lain? mari kita bahas secara terperinci, dan penulis tidak akan membahasnya dari sudut pandang agama karena menurut penulis dalam pandangan agama sudah tidak bisa diragukan lagi hukum terhadap tamak atau serakah dan akibat dari tamak baik di dunia maupun di akhirat. Banyak keterangan Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan tentang tamak, rakus atau serakah silahkan anda membacanya pada literatur yang lain.


Mengapa orang bisa berbuat tamak?
Tamak dalam konotasi negatif adalah sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap orang, pada diri manusia ada potensi sifat tamak. Potensi sifat tamak ini memiliki dua kecendruangan, yang pertama yaitu kecendrungan terhadap tamak dalam kategori baik dan yang kedua potensi terhadap tamak dalam kategori buruk. Kedua potensi tersebut berpengaruh terhadap pikiran manusia yang bersumber pada hawa nafsu. Ketika pada diri manusia kecendrungan terhadap sifat tamak dalam hal kebaikan yang lebih besar maka manusia tersebut mampu mengontrol keinginan terhadap sesuatu yang bersifat harta benda dengan landasan hati nurani sebagai power utamanya. Dan potensi ketamakan dalam hal baik bisa berupa perbuatan terpuji yang ingin ia lakukan terus menerus dan ia selalu merasa kurang akan perbuatan baik yang sudah dilakukannya. Dalam catatan sejarah peradaban manusia tidak ada manusia berlomba-lomba dalam hal kebaikan justru manusia saat ini lebih banyak ingin menerima dari pada memberi.

Sedangkan manusia yang memiliki kecendrungan lebih besar terhadap sifat tamak dalam hal keburukan, bukan hanya saja ia tidak mampu melawan keinginan hawa nafsunya akan tetapi ada faktor lain yang sangat fundamental yaitu rasa tenggang rasa dan welas asih yang hilang terhadap orang lain, orang yang seperti itu memiliki sifat apa yang dimiliki oleh babi.

Mengapa digambarkan seperti babi?
Karena babi adalah hewan rakus yang tidak pernah kenyang walaupun diberikan makan sebanyak apapun, babi memakan apa saja termasuk kotorannya sendiri. Orang yang tamak tentu saja sadar dan tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah bahkan ia pun juga tidak rela dan tidak ingin apabila hak bagiannya diambil orang lain, seumpama babi yang tahu bahwa itu adalah kotorannya sendiri tetapi tetap saja ia makan dan santap.

Akibat ketamakan, rakus atau serakah
Sifat tamak akan menimbulkan berbagai macam kerugian yang akan terjadi pada orang yang melakukannya. Salah satu akibat yang paling fatal terjadi adalah penyakit. Orang yang berbuat tamak lebih cepat proses berpikir otaknya, berpikir otaknya bukan untuk melakukan hal kebaikan. Orang tamak berusaha mencari cara agar mendapatkan bagian yang lebih banyak dari pada orang lain. Segala kebohongan dan tipu daya dilakukan untuk mengambil hak orang lain dan itu membutuhkan daya berpikir yang ekstra oleh otak agar menemukan langkah-langkah atau cara-cara keji dan tercela.

Apa yang salah dengan daya kerja otak yang ekstra?
Nah inilah yang tidak difahami oleh banyak orang, ketika kita berpikir untuk melakukan hal keburukan maka ada salah satu organ dalam tubuh kita yang menolaknya yaitu hati. Hati akan memberikan respon sinyal bahwa apa yang dipikirkan oleh otak itu adalah salah dan tidak boleh dikerjakan. Dan setiap otak melakukan proses berpikir, baik pikiran positif maupun negatif maka akan direspon oleh hati. Respon terhadap pikiran positif hanya 1 sinyal sedangkan respon terhadap pikiran negatif bertubi-tubi dan berkali lipat dipantulkan, bahkan sampai pekerjaan sudah dilakukanpun respon sinyal hati masih terus dipantulkan yaitu berupa penyesalan dan rasa bersalah. Pantulan sinyal yang bertubi-tubi akan membawa dampak buruk terhadap organ jantung, ginjal, usus, lambung dan yang lebih besar dampaknya adalah otak sebagai penerima sinyal utama yang dapat menyebabkan struk. Karena respon negatif yang diterima oleh hati maka sinyak negatif pula yang dipantulkan.

Akibat yang kedua yaitu sakit hatinya seseorang yang diambil hak bagiannya oleh orang yang tamak. Ketamakan seseorang sudah bisa dipastikan bahwa ia mengambil hak bagian orang lain agar bagiannya lebih banyak. Dan ini sangat berbahaya, mengapa? karena karakter dan kepribadian seseorang berbeda-beda dan tentu saja si tamak pun juga tidak bisa menduganya, ia bisa saja dibalas oleh orang yang diambil haknya dengan kejahatan seperti dibunuh, dibakar rumahnya, ditabrak di jalan, disakiti anggota keluarganya, diteror, atau yang paling kecil yaitu disumpahin atau dikutuk dengan keburukan.

Cara mengatasi sifat tamak
Inilah bagian yang sulit kita membahasnya, karena orang yang tamak tentu saja tahu dan sadar jika apa yang ia lakukan adalah salah dan tidak benar akan tetapi tetap saja ia kerjakan. Dan ironisnya ia juga tidak rela jika hak bagiannya diambil oleh orang lain. Cara jitu mengatasinya adalah dengan formula racun harus dilawan dengan racun, berdasarkan keterangan pertama di atas, maka orang tamak harus dihadapkan pada orang yang tamak pula (tentu sudah tergambar dipikiran anda apa yang akan terjadi).
 
Mari kita jauhkan sifat tercela tamak, rakus, atau serakah dari diri kita agar hak orang lain tidak kita ambil apalagi sampai kita makan dan masuk ke dalam perut kita atau perut anggota keluarga kita. Semoga keterangan ini bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.

Sumber : DodolPirodotblogspotdotcom

Sumber Caption : Lukisan Pribadi

Selasa, 11 Agustus 2020

Beragama tapi Korupsi

 (Kutipan pitutur Emha Ainun Najib)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?". Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan". "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" , kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal Al-Qur'an, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga , orang yang tidak shalat, tidak membaca Al-Qur'an, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca Al-Qur'an, tapi menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Qur'an.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan,belas kasih, dan cinta kasih sesama.
Bila kita cuma puasa, shalat, baca Al-Qur'an, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orangorang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. 

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demistatus dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, ...kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan . 

Indonesia , sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.
 

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

 sumber gambar : CakNun.com

Jumat, 19 Juni 2020

Berpikir positif itu asyik, walaupun berat dilakukan


Inspirasi Sebuah kisah nyata...

 

Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi". Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga  sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;
  1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
  2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
  3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
  4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
  5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
  6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
  7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
  8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
  9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
  10. Untuk dst...
  
Sumber : Dari Dunia Maya, yang aku lupa untuk mencatatnya, terimakasih buat yang mempostingnya dan maaf kalau aku tidak mencatat siapa penulis artikel ini (FA)

Sumber Gambar : Lukisanku tahun 2010 berjudul Hamdalah

Selasa, 09 Juni 2020

BERSEMBUNYI DARI CORONA

Sebagai renungan di masa pandemik covid-19 ini, tulisan Cak Nun ini cukup menginspirasi buatku, dan semoga buat kita semua, untuk itu yok kita baca dengan cermat dan ambil hikmahnya, semoga manfaat

Bersembunyi dari Corona

Emha Ainun Najib

Buku saya “Dari Pojok Sejarah” adalah buku hasil “lockdown” atau PSBB swasta yang dipaksakan kepada saya atau saya paksakan sendiri kepada diri saya. Buku itu saya tulis pada tahun 1985 di sebuah “kamar hantu” di Oudemal Straat, Den Haag. Dengan menggunakan mesin tik listrik IBM periode awal-awal. Belum ada Komputer, DOS, Xiwright, WS, disket 264 KB atau disket kecil 1,2 MB. Juga belum ada e-mail, Cellphone atau Gadget kata anak sekarang. Jadi no SMS, no WA, apalagi sampai FB dan IG. Atau Zoom atau sekalian Youtube. Habis ngetik harus di-print out, dijilid sendiri, kemudian dikirim per-Pos ke Indonesia.
Sampai hari ini sangat sering saya mengingat-ingat dan mencoba merekonstruksi bagaimana cara berkomunikasi waktu itu. Bagaimana cara kontaknya dulu sehingga saya sampai ke Gereja Protestan Amstelveen, sampai ke Polda Utrecht yang saya gebrak-gebrak mejanya karena tidak memberi saya izin tinggal. “Dulu Kakek kalian masuk Negara saya tidak kulonuwun, terus ngrampok, saya masuk Belanda dengan uang saya sendiri dan minta izin baik-baik.”
Bagaimana caranya kok sebelum Oudemal Straat itu saya punya kost dari Leidsplain ke selatan, mengasuh para gelandangan di Centraal Station Amsterdam, kemudian sambung dengan Pendeta Hoffman dan dikasih satu kamar di Asrama Gereja yang ketika saya datang lagi dengan KiaiKanjeng awal 2000-an Gereja itu sudah menjadi Mal. Bagaimana caranya saya bisa terlibat dalam kontak-kontak untuk mengikuti banyak Seminar, Simposium dan Diskusi, sampai kemudian “mengajar” di ISS (Institute of Social Studies). Kan nggak ada WA atau SMS pun. Saya tetap nulis rutin untuk Kompas dan Tempo entah bagaimana mekanismenya. Saya ikut jamaah di Masjidnya Kiai Ghazali temannya Gus Dur. Saya hapal barang-barang apa yang baru di Pasar Loak dua stasiun sebelum Centraal. Saya tinggal di rumah “bobolan” (karena lebih dua minggu tidak ada lampu menyala) dengan gelandangan Amerika Charles McGeehan, Umbu-nya Amsterdam, yang rajin menerjemahkan puisi-puisi saya ke Bahasa Belanda dan Inggris. Saya ngamen dengan pemain perkusi Afrika Zapa Yauw ke banyak Gallery dan pusat-pusat kesenian. Saya belajar nglinting rokok “Van Nelle” atau “Jongen van Java” Halfzwaar kepada teman Rotterdam yang fasih nglinting rokok sambil nyetir.
Tapi setelah itu ketika permanen sewa kamar hantu di Den Haag, malah “lockdown” beberapa bulan. Aturan yang memaksa saya “lockdown” adalah kondisi keuangan saya. Mau keluar ke mana? Ke Warung atau Restoran Mbah-nya siapa. Ke Toko atau Mal beli “dengkul” apa “bathuk”mu. Thilang-thileng, kethap-kethip di kamar hantu sendirian. Ada hari-hari tidak mampu menulis apa pun karena pikiran ambyar. Nonton TV nggak bisa menyerap. Nonton film ke bioskop karcisnya minta Wak Jan adanya di Menturo. Ke dapur ngliwet, nyeplok, ndadar, ngliwet, nyeplok, ndadar for all seasons. Di luar suhunya dingin meremas tulang daging membunuh daya hidup. Di dalam kamar tak kebagian pemanas.
Andaikan hidup di sel penjara masih lumayan karena ada jam-jam dikasih makan dan banyak teman meskipun harus punya aji-aji Lembu Sekilan untuk menghindari bahaya homoseksualitas dll. Kalau pada 1985 itu muncul Corona dan Belanda malakukan “lockdown”, tidak ada bedanya bagi saya. Sekarang orang sedunia digembok hidupnya di dalam rumahnya masing-masing, dan sesekali saya tersenyum karena di masa muda saya dulu pernah mengalami siang malam gembokan secara lebih ketat dan dahsyat.
Ketika itu saya bisa bertahan karena di dalam memori pengetahuan saya belum ada opsi bahwa orang bisa hidup dalam Gua tapi bisa interneting, browsing, youtubing, kontak siapa saja sedunia pakai SMS, Line atau WA atau e-mail. Bisa lihat dunia sebelah mana saja dan peristiwa apa saja dari telepon genggam. Artinya, kalau sekarang saya disuruh mengalami 1985 itu lagi di luar negeri, mending saya belajar ilmunya Maling Cluring yang bisa berpindah tempat melalui cahaya.
Apalagi antar-Negara, selain melalui surat Pos yang membutuhkan waktu berminggu-minggu. Satu-satunya yang saya ingat adalah “mbobol” telepon umum, bersama komunitas Refugees dan gelandangan di Belanda: hanya dengan koin 1-2 Gulden, kemudian kode-kode tertentu bisa sambung ke Yogya gratis selama mau kita, 1 atau 2 jam. Tapi itu kejar-kejaran dengan Polisi. Dua minggu sekali dioperasi, ketahuan kodenya, kemudian kami nge-crack lagi. Dan begitu seterusnya.
Di rumah PBB Oudemal Straat itu ada telepon umum, tapi mustahil saya dan kami semua mampu interlokal ke Indonesia. Untuk membaca koran Nasional Indonesia atau Majalah mingguan, paling cepat menunggu satu minggu dari tanggal terbitnya. Itu pun royokan di kampus saya; ISS (Institute of Social Studies) yang saya secara ajaib menjadi Pengajar “Culture & Development” dan “Religion & Development” dengan metode embrional Maiyah.
Ketersediaan teknologi yang belum advanced ketika itu merupakan “lockdown” tersendiri. Sabrang dengan Ibunya di Yogya belum tentu bisa makan sehari-hari. Politik Orde Baru membuat sejumlah masalah kepada saya pribadi. Sehabis saya menyelesaikan tugas di “Rotterdam Poetry International”, sebelum saya di ISS, keuangan sehari-hari saya tidak jelas. Ada semacam beasiswa tetapi dua bulan pertama tidak turun. Saat-saat itulah “lockdown” saya menghimpit sedemikian rupa.
Saya menyewa kamar pojok bawah yang tidak kebagian alat pemanas, sehingga siang malam saya pakai mantel dan kerudung seperti Imam Khamenei kesasar, saking dinginnya. Harga normal sewa kamar di rumah itu 350 Gulden, kamar yang saya pilih hanya 175 Gulden berhubung keterbatasan keuangan saya. Belum pernah ada penghuni kamar saya itu dulu-dulu yang tidak kabur, stres berat atau gila, atau bercerai suami-istri. Justru karena itu disewakan sangat murah, dan bagi saya itu “yarzuqhu min haitsu la yahtasib”: Allah menganugerahkan rezeki tak terduga.
Jadi, sesungguhnya apa gerangan yang sekarang hari-hari ini kita takuti? Apakah kita semua ini sedang mengkerut takut kepada virus Corona? Bisa ya, bisa tidak. Yang pasti kita takuti adalah adzab Tuhan. Kalau Coronavirus adalah Coronavirus itu sendirian sih, ayolah sini. Iblis, Dajjal, Setan, Ya’juj Ma’juj, semua monster-monster serem, ayo reneo, rinio. Tetapi kalau Covid-19 adalah taburan dari adzab Allah, itu baru perkara.
“Dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar-Ra’d).
Kita menjalani hidup antara lain untuk mempelajari apa yang kita terima dan apa yang kita tolak. Apa yang kita berani dan apa yang kita takut. Nabi Ibrahim As dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw ditawari Malaikat untuk menghancurkan musuh yang membakar beliau dan melempari batu serta meluncurkan anak panah sehingga menyerempet leher kiri beliau. Kedua manusia yang paling dekat kepada Allah itu, Khalilullah dan Habibullah, menolak tawaran Malaikat meskipun itu untuk membelanya. Jawaban beliau berdua sama: “Kalau apa yang engkau kemukakan itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah. Tetapi kalau yang engkau tawarkan itu berasal dari dirimu sendiri, terima kasih, jangan lakukan, biarkan saya mengalami apa pun saja yang Allah izinkan untuk aku alami”.
Dengan prinsip yang sama meskipun dengan logika kasus yang terbalik, kita ngeri kalau Coronavirus ini adalah hukuman Allah, bukan sekadar ujian atau peringatan. Kalau peringatan, kita tingkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Kalau ujian, kita tingkatkan disiplin dan kesungguhan. Tapi kalau hukuman, balasan atau adzab Allah, Jamaah Maiyah dan kita memperdalam rasa dosa kepada Allah, kita hitung, kita petakan dan muhasabahi kesalahan-kesalahan kita, kemudian memohon ampun, bertobat dan bersumpah tidak mengulanginya lagi.
Andaikan Corona tidak datang menjadi saudara bungsu makhluk-makhluk Allah di Bumi, apakah kita terbebas dari kemungkinan sakit dan mati? “Aina ma takunu”.
Sekarang semua Negara di Bumi mengatur cara bersembunyi dari sebaran Corona. Yang paling nyata adalah perilaku manusia dalam Peradaban yang dijalankannya adalah “bersembunyi dari Allah”, Dan semua penghuni langit mentertawakan manusia. Mereka tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa bersembunyi dari pengetahuan Allah, tetapi tetap saja mereka berusaha untuk bersembunyi dari Allah. Minimal menipu diri mereka sendiri dengan menganggap seolah-olah Allah tidak mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah). *****

Sumber :  https://www.caknun.com/2020/bersembunyi-dari-corona/

Jumat, 05 Juni 2020

AKHLAK BAIK DARI HATI YANG BAIK

Tausiyah AA Gym


Alhamdulillah. Puji dan syukur hanya kepada Alloh Swt. Beruntunglah orang yang senantiasa mendapat petunjuk Alloh, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Rosululloh Saw. bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu hati.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Akhlak yang baik bersumber dari hati yang baik. Hati yang bersih akan memancarkan akhlak yang mulia. Seperti teko, ia hanya mengeluarkan isi teko. Jika di dalamnya kopi maka akan keluar kopi, jika di dalamnya susu, maka akan keluar susu, jika di dalamnya air comberan maka itulah yang ia keluarkan.

Jadi kalau kita ingin punya akhlak yang baik, maka harus berjuang agar memiliki hati yang baik. Bagaimana agar memiliki hati yang baik, kuncinya adalah belajar dan bersungguh-sungguh. Ilmu akan sia-sia jika tidak dipraktikkan, ilmu akan percuma jika tidak diamalkan. Namun, amal juga akan menguap begitu saja jika tidak diiringi dengan keistiqomahan atau konsistensi.

Bagaimana agar hati kita senantiasa baik dan jernih. Kebaikan hati akan terjaga sesuai dengan kekuatan dzikir kita, yaitu ingatan kita kepada Alloh Swt. Semakin hati kita penuh dengan dzikrulloh, maka hati akan lebih tenang dan bersih dari bibit-bibit penyakit hati. Salah satu bentuk dzikir adalah setiap ucapan dan sikap kita selalu dikaitkan kepada Alloh. Setiap kali akan mengucapkan sesuatu atau melakukan sesuatu, bertanyalah kepada diri sendiri, “Kalau saya melakukan ini, Alloh suka atau tidak?!”

Cara dzikir yang lain adalah dengan sering memeriksa niat, apakah kita sedang riya atau tidak, sombong atau tidak, mencari pujian manusia atau penilaian Alloh, ikhlas atau mengharap pamrih manusia, dan seterusnya. Pegulatan hati kita yang seperti ini pasti diketahui oleh Alloh dan jika kita mendekatkan diri kepada-Nya, niscaya Alloh akan memudahkan kita memiliki hati yang bersih dan istiqomah dalam kemuliaan akhlak. Betapa beruntung orang yang senantiasa terbimbing oleh petunjuk Alloh Swt. dan memiliki akhlak mulia. Semoga kita termasuk orang-orang yang demikian. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar, Sumber: smstauhiid.com