Tampilkan postingan dengan label EMHA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EMHA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2020

Beragama tapi Korupsi

 (Kutipan pitutur Emha Ainun Najib)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?". Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan". "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" , kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal Al-Qur'an, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga , orang yang tidak shalat, tidak membaca Al-Qur'an, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca Al-Qur'an, tapi menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Qur'an.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan,belas kasih, dan cinta kasih sesama.
Bila kita cuma puasa, shalat, baca Al-Qur'an, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orangorang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. 

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demistatus dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, ...kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan . 

Indonesia , sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.
 

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

 sumber gambar : CakNun.com

Kamis, 02 Juli 2020

Demokrasi La Roiba Fih

"Demokrasi itu harga mati.
Demokrasi itu kebenaran sejati.
Demokrasi itu la roiba fi h, tak ada keraguan padanya."
 
Dengan pandangan yang jernih, Cak Nun mengulas masalah demokrasi dinegeri kita. Demokrasi itu bak ”perawan”, yang merdeka dan memerdekakan.
Watak utama demokrasi adalah ”mempersilakan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan, atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama ”si perawan” yang bernama demokrasi, bahkan berhak memperkosanya: yang melarang memperkosa bukan si perawan itu sendiri, melainkan ”sahabat”-nya yang bernama moral dan hukum.
Di mata Cak Nun, berbagai persoalan apa saja menjadi sangat menarik. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi mengulas masalah pemilihan presiden, golput, paguyuban ahli surga, bahkan menyentil negeri kita layaknya Gatotkaca gagah perkasa tetapi menderita sakit lupus. Dan yang tak kalah penting, bagaimana soal Islam Indonesia yang bersikap ”look up” kepada Timur Tengah, sementara Timur Tengah cenderung ”look down” kepada Islam Indonesia. Bagaimana sikap kita terhadap masalah ini?
Seluruh tulisan Cak Nun memberikan ketenangan batin, mencerahkan hati dan pikiran kita. Memberikan jalan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap berbagai persoalan di negeri kita atau mengenai negara lain. (Repositori Emha Ainun Nadjib) 
 
Sumber Gambar : CakNun

Selasa, 09 Juni 2020

BERSEMBUNYI DARI CORONA

Sebagai renungan di masa pandemik covid-19 ini, tulisan Cak Nun ini cukup menginspirasi buatku, dan semoga buat kita semua, untuk itu yok kita baca dengan cermat dan ambil hikmahnya, semoga manfaat

Bersembunyi dari Corona

Emha Ainun Najib

Buku saya “Dari Pojok Sejarah” adalah buku hasil “lockdown” atau PSBB swasta yang dipaksakan kepada saya atau saya paksakan sendiri kepada diri saya. Buku itu saya tulis pada tahun 1985 di sebuah “kamar hantu” di Oudemal Straat, Den Haag. Dengan menggunakan mesin tik listrik IBM periode awal-awal. Belum ada Komputer, DOS, Xiwright, WS, disket 264 KB atau disket kecil 1,2 MB. Juga belum ada e-mail, Cellphone atau Gadget kata anak sekarang. Jadi no SMS, no WA, apalagi sampai FB dan IG. Atau Zoom atau sekalian Youtube. Habis ngetik harus di-print out, dijilid sendiri, kemudian dikirim per-Pos ke Indonesia.
Sampai hari ini sangat sering saya mengingat-ingat dan mencoba merekonstruksi bagaimana cara berkomunikasi waktu itu. Bagaimana cara kontaknya dulu sehingga saya sampai ke Gereja Protestan Amstelveen, sampai ke Polda Utrecht yang saya gebrak-gebrak mejanya karena tidak memberi saya izin tinggal. “Dulu Kakek kalian masuk Negara saya tidak kulonuwun, terus ngrampok, saya masuk Belanda dengan uang saya sendiri dan minta izin baik-baik.”
Bagaimana caranya kok sebelum Oudemal Straat itu saya punya kost dari Leidsplain ke selatan, mengasuh para gelandangan di Centraal Station Amsterdam, kemudian sambung dengan Pendeta Hoffman dan dikasih satu kamar di Asrama Gereja yang ketika saya datang lagi dengan KiaiKanjeng awal 2000-an Gereja itu sudah menjadi Mal. Bagaimana caranya saya bisa terlibat dalam kontak-kontak untuk mengikuti banyak Seminar, Simposium dan Diskusi, sampai kemudian “mengajar” di ISS (Institute of Social Studies). Kan nggak ada WA atau SMS pun. Saya tetap nulis rutin untuk Kompas dan Tempo entah bagaimana mekanismenya. Saya ikut jamaah di Masjidnya Kiai Ghazali temannya Gus Dur. Saya hapal barang-barang apa yang baru di Pasar Loak dua stasiun sebelum Centraal. Saya tinggal di rumah “bobolan” (karena lebih dua minggu tidak ada lampu menyala) dengan gelandangan Amerika Charles McGeehan, Umbu-nya Amsterdam, yang rajin menerjemahkan puisi-puisi saya ke Bahasa Belanda dan Inggris. Saya ngamen dengan pemain perkusi Afrika Zapa Yauw ke banyak Gallery dan pusat-pusat kesenian. Saya belajar nglinting rokok “Van Nelle” atau “Jongen van Java” Halfzwaar kepada teman Rotterdam yang fasih nglinting rokok sambil nyetir.
Tapi setelah itu ketika permanen sewa kamar hantu di Den Haag, malah “lockdown” beberapa bulan. Aturan yang memaksa saya “lockdown” adalah kondisi keuangan saya. Mau keluar ke mana? Ke Warung atau Restoran Mbah-nya siapa. Ke Toko atau Mal beli “dengkul” apa “bathuk”mu. Thilang-thileng, kethap-kethip di kamar hantu sendirian. Ada hari-hari tidak mampu menulis apa pun karena pikiran ambyar. Nonton TV nggak bisa menyerap. Nonton film ke bioskop karcisnya minta Wak Jan adanya di Menturo. Ke dapur ngliwet, nyeplok, ndadar, ngliwet, nyeplok, ndadar for all seasons. Di luar suhunya dingin meremas tulang daging membunuh daya hidup. Di dalam kamar tak kebagian pemanas.
Andaikan hidup di sel penjara masih lumayan karena ada jam-jam dikasih makan dan banyak teman meskipun harus punya aji-aji Lembu Sekilan untuk menghindari bahaya homoseksualitas dll. Kalau pada 1985 itu muncul Corona dan Belanda malakukan “lockdown”, tidak ada bedanya bagi saya. Sekarang orang sedunia digembok hidupnya di dalam rumahnya masing-masing, dan sesekali saya tersenyum karena di masa muda saya dulu pernah mengalami siang malam gembokan secara lebih ketat dan dahsyat.
Ketika itu saya bisa bertahan karena di dalam memori pengetahuan saya belum ada opsi bahwa orang bisa hidup dalam Gua tapi bisa interneting, browsing, youtubing, kontak siapa saja sedunia pakai SMS, Line atau WA atau e-mail. Bisa lihat dunia sebelah mana saja dan peristiwa apa saja dari telepon genggam. Artinya, kalau sekarang saya disuruh mengalami 1985 itu lagi di luar negeri, mending saya belajar ilmunya Maling Cluring yang bisa berpindah tempat melalui cahaya.
Apalagi antar-Negara, selain melalui surat Pos yang membutuhkan waktu berminggu-minggu. Satu-satunya yang saya ingat adalah “mbobol” telepon umum, bersama komunitas Refugees dan gelandangan di Belanda: hanya dengan koin 1-2 Gulden, kemudian kode-kode tertentu bisa sambung ke Yogya gratis selama mau kita, 1 atau 2 jam. Tapi itu kejar-kejaran dengan Polisi. Dua minggu sekali dioperasi, ketahuan kodenya, kemudian kami nge-crack lagi. Dan begitu seterusnya.
Di rumah PBB Oudemal Straat itu ada telepon umum, tapi mustahil saya dan kami semua mampu interlokal ke Indonesia. Untuk membaca koran Nasional Indonesia atau Majalah mingguan, paling cepat menunggu satu minggu dari tanggal terbitnya. Itu pun royokan di kampus saya; ISS (Institute of Social Studies) yang saya secara ajaib menjadi Pengajar “Culture & Development” dan “Religion & Development” dengan metode embrional Maiyah.
Ketersediaan teknologi yang belum advanced ketika itu merupakan “lockdown” tersendiri. Sabrang dengan Ibunya di Yogya belum tentu bisa makan sehari-hari. Politik Orde Baru membuat sejumlah masalah kepada saya pribadi. Sehabis saya menyelesaikan tugas di “Rotterdam Poetry International”, sebelum saya di ISS, keuangan sehari-hari saya tidak jelas. Ada semacam beasiswa tetapi dua bulan pertama tidak turun. Saat-saat itulah “lockdown” saya menghimpit sedemikian rupa.
Saya menyewa kamar pojok bawah yang tidak kebagian alat pemanas, sehingga siang malam saya pakai mantel dan kerudung seperti Imam Khamenei kesasar, saking dinginnya. Harga normal sewa kamar di rumah itu 350 Gulden, kamar yang saya pilih hanya 175 Gulden berhubung keterbatasan keuangan saya. Belum pernah ada penghuni kamar saya itu dulu-dulu yang tidak kabur, stres berat atau gila, atau bercerai suami-istri. Justru karena itu disewakan sangat murah, dan bagi saya itu “yarzuqhu min haitsu la yahtasib”: Allah menganugerahkan rezeki tak terduga.
Jadi, sesungguhnya apa gerangan yang sekarang hari-hari ini kita takuti? Apakah kita semua ini sedang mengkerut takut kepada virus Corona? Bisa ya, bisa tidak. Yang pasti kita takuti adalah adzab Tuhan. Kalau Coronavirus adalah Coronavirus itu sendirian sih, ayolah sini. Iblis, Dajjal, Setan, Ya’juj Ma’juj, semua monster-monster serem, ayo reneo, rinio. Tetapi kalau Covid-19 adalah taburan dari adzab Allah, itu baru perkara.
“Dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar-Ra’d).
Kita menjalani hidup antara lain untuk mempelajari apa yang kita terima dan apa yang kita tolak. Apa yang kita berani dan apa yang kita takut. Nabi Ibrahim As dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw ditawari Malaikat untuk menghancurkan musuh yang membakar beliau dan melempari batu serta meluncurkan anak panah sehingga menyerempet leher kiri beliau. Kedua manusia yang paling dekat kepada Allah itu, Khalilullah dan Habibullah, menolak tawaran Malaikat meskipun itu untuk membelanya. Jawaban beliau berdua sama: “Kalau apa yang engkau kemukakan itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah. Tetapi kalau yang engkau tawarkan itu berasal dari dirimu sendiri, terima kasih, jangan lakukan, biarkan saya mengalami apa pun saja yang Allah izinkan untuk aku alami”.
Dengan prinsip yang sama meskipun dengan logika kasus yang terbalik, kita ngeri kalau Coronavirus ini adalah hukuman Allah, bukan sekadar ujian atau peringatan. Kalau peringatan, kita tingkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Kalau ujian, kita tingkatkan disiplin dan kesungguhan. Tapi kalau hukuman, balasan atau adzab Allah, Jamaah Maiyah dan kita memperdalam rasa dosa kepada Allah, kita hitung, kita petakan dan muhasabahi kesalahan-kesalahan kita, kemudian memohon ampun, bertobat dan bersumpah tidak mengulanginya lagi.
Andaikan Corona tidak datang menjadi saudara bungsu makhluk-makhluk Allah di Bumi, apakah kita terbebas dari kemungkinan sakit dan mati? “Aina ma takunu”.
Sekarang semua Negara di Bumi mengatur cara bersembunyi dari sebaran Corona. Yang paling nyata adalah perilaku manusia dalam Peradaban yang dijalankannya adalah “bersembunyi dari Allah”, Dan semua penghuni langit mentertawakan manusia. Mereka tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa bersembunyi dari pengetahuan Allah, tetapi tetap saja mereka berusaha untuk bersembunyi dari Allah. Minimal menipu diri mereka sendiri dengan menganggap seolah-olah Allah tidak mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah). *****

Sumber :  https://www.caknun.com/2020/bersembunyi-dari-corona/

Sabtu, 05 September 2009

Syahadat Saridin


oleh : EMHA AINUN NADJIB

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.
Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.
Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur'an ana biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu.
Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Selasa, 31 Maret 2009

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG

Oleh :
Emha Ainun Najib

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan

1987

Senin, 05 Januari 2009

itulah MAIYAH

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum:
"Apakah anda punya tetangga?".
Biasanya dijawab: "Tentu punya"
"Punya istri enggak tetangga Anda?"
"Ya, punya dong"
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?"
"Secara khusus, tak pernah melihat "
" Jari-jari kakinya lima atau tujuh? "
"Tidak pernah memperhatikan"
"Body-nya sexy enggak?"
Hadirin biasanya tertawa.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka:

"Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan,tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan,diskusika n atau perdebatkan. Biarin saja".

Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun.Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati.

Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam?

Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah.Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter,umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.

Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan,padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga Berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama.
Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik,kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun.Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyingkal dan nggaru sawah.

Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.
Itulah Maiyah.

Rabu, 17 September 2008

IFTITAH

Oleh EMHA AINUN NAJIB
dari SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA

Kata kaum terpelajar
Supaya negara kuat
Rakyat harus lemah
Dan kami tidak ingin menyatakan
Bahwa agar rakyat kuat
Negara harus lemah
Sebab kami tidak mencita-citakan
Kerakusan yang sama
Kami hanya memimpikan
Tawar menawar yang seimbang
Untuk pemerataan dan kesepadanan