Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

SELALU BERBUAT BAIK

 

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS.18:110)

 

Didalam hidup ini kita selalu mencari dan mencari, setelah kita menemukan apa yang kita cari, kita masih saja tetap mencari, apakah mencari ilmu, mencari harta, mencari jati diri, mencari jodoh dan sebagainya. Dan itu kita lakukan terus menerus sepanjang hidup kita, sampai ajal datang menjeput.

Mencari ini bisa positif dan bisa pula negatif, semua itu tergantung bagi akal dan pikiran kita. Secara naluriah manusia pada dasarnya punya keinginan untuk mencari yang baik, yang positif, namun terkadang karena keadaan, bisa berubah mencari yang negatif dan buruk, dan semua ini tetap tergantung dari suasana hati dan iman yang ada pada diri kita yang sebenarnya terbentuk sejak kita lahir dan mendapat pelajaran dan pengajaran dari hidup yang kita lalui.

Sebagai manusia kita dibekali akal dan pikiran serta nafsu yang  merupakan satu perangkat yang dianugerahkan Allah kepada kita.Dengan perangkat itu kita harus mendayagunakannya untuk melatih kepekaan terhadap segala sesuatu dan peristiwa yang kita alami. Setiap hari kita selalu menemukan hal yang baru yang kemudian menghantarkan kita untuk melakukan proses pencarian yang baru yang membuat kita belajar untuk lebih memaknai hidup ini, itulah hidup manusia yang selalu berproses.

Akhir hidup ini tidak ada yang mengetahui apakah akan berakhir dengan baik (Husnul Khotimah) atau sebaliknya (Su’ul Khotimah), apakah proses yang kita lakukan selama hidup ini sudah berjalan dengan baik atau tidak, kita hanya bisa menerka dan merasakan, Wallahu a’lam bi shawab, hanya Allah yang mengetahuinya, namun kita harus selalu yakin bahwa Allah itu Rahman dan Rahim, maka Allah akan selalu bersama kita dan selalu memberi clue pada kita, tergantung apakah kita peka atau tidak, cermat atau tidak.

Kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, ada yang baik dan buruk ada yang positif dan negatif, ada yang kita kira positif ternyata negatif dan adapula yang kita kira baik ternyata buruk. Ada yang menurut kita baik tetapi menurut orang lain tidak baik, demikian sebaliknya. Untuk itulah kita dikaruniai perangkat perangkat di atas. kita harus pandai memilah dan memilih mana yang baik dan benar, baik itu menurut kita maupun menurut orang lain dan tentu saja akan lebih baik dan harus adalah baik menurut Allah. Untuk mencapai itu semua kuncinya adalah selalu berbuat baik dalam hidup ini, dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja dan dalam situasi apapun juga.

Jadi... selalulah berbuat baik......

 

Wassalam

#bang ical


 

Kamis, 02 Juli 2020

Demokrasi La Roiba Fih

"Demokrasi itu harga mati.
Demokrasi itu kebenaran sejati.
Demokrasi itu la roiba fi h, tak ada keraguan padanya."
 
Dengan pandangan yang jernih, Cak Nun mengulas masalah demokrasi dinegeri kita. Demokrasi itu bak ”perawan”, yang merdeka dan memerdekakan.
Watak utama demokrasi adalah ”mempersilakan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan, atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama ”si perawan” yang bernama demokrasi, bahkan berhak memperkosanya: yang melarang memperkosa bukan si perawan itu sendiri, melainkan ”sahabat”-nya yang bernama moral dan hukum.
Di mata Cak Nun, berbagai persoalan apa saja menjadi sangat menarik. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi mengulas masalah pemilihan presiden, golput, paguyuban ahli surga, bahkan menyentil negeri kita layaknya Gatotkaca gagah perkasa tetapi menderita sakit lupus. Dan yang tak kalah penting, bagaimana soal Islam Indonesia yang bersikap ”look up” kepada Timur Tengah, sementara Timur Tengah cenderung ”look down” kepada Islam Indonesia. Bagaimana sikap kita terhadap masalah ini?
Seluruh tulisan Cak Nun memberikan ketenangan batin, mencerahkan hati dan pikiran kita. Memberikan jalan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap berbagai persoalan di negeri kita atau mengenai negara lain. (Repositori Emha Ainun Nadjib) 
 
Sumber Gambar : CakNun

Rabu, 24 Juni 2009

BERIKAN IDE UNTUK DAPATKAN IDE


Kalau anda punya uang 1 lembar 100 ribuan dan saya punya uang 10 lembar 10 ribuan, jadi nilai keduanya juga sama 100 ribu. Lalu anda tukar uang anda dengan saya, maka saya sekarang mempunyai 1 lembar 100 ribuan dan anda punya 10 lembar 10 ribuan.

Tapi nilainya tetap sama, anda tetap punya uang 100 ribu dan saya tetap punya uang 100 ribu juga.Tapi kalau anda punya 1 ide yang menarik, saya juga punya 1 ide yang menarik dan kita saling tukar ide, maka anda sekarang mempunyai 2 ide. Saya juga mempunyai 2 ide.

Jumat, 06 Juni 2008

GOOD GOVERNANCE, sebuah perenungan

Sebagai warga negara Indonesia yang baik kita semua pasti menginginkan negara kita ini dilaksanakan oleh pemerintah yang baik, bersih dan jujur atau lebih dikenal dengan istilah good governance, sehingga roda pemerintahan dapat berjalan sebagaimana mestinya sehingga akan tercapai tujuan mulia bangsa menuju masyarakat yang sejahtera.

Didalam RPJM Tahun 2004-2009 tertulis bahwa sasaran penyelenggaran negara adalah terciptanya tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, profesional, dan bertanggungjawab, yang diwujudkan dengan sosok dan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif serta dapat memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh masyarakat

Kalau kita boleh menilai isi dari RPJM 2004-2009 tersebut khususnya bab mengenai Good Governance, sungguh sangat bagus dalam teori, namun apakah aplikasi dari dokumen tersebut dapat terwujud, kita sama-sama bisa menjawab dengan melihat realita

Untuk mencapai suatu pemerintahan yang bersih sebenarnya harus dimulai dari pemerintah sendiri yang harus secara bersama-sama memegang teguh komitmen terhadap sasaran penyelenggaraan negara tersebut. Pemerintah disini tentu saja tidak terlepas dari peran PNS yang semuanya pasti terlibat dalam penyelenggaraan negara. Selain Pemerintah, peran legislatif dan tentu saja peran masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Manusia secara hakiki, dalam menjalankan kehidupan normalnya harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, seperti sandang, pangan dan papan. Berangkat dari hal ini kita coba untuk melihat apakah penyelanggara negara sudah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut, dalam hal ini penulis mencoba untuk melihat contoh dari sisi PNS, karena PNS lah yang lebih dikenal oleh masyarakat awam sebagai penyelenggara pemerintahan.

Pertanyaan pertama yang akan muncul adalah apakah PNS sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya? Untuk menjawabnya tentu saja kita lihat barometer pencukupan kebutuhan dasar tersebut yang dalam hal ini bagi PNS adalah Gaji yang diterima setiap bulannya.

Kita coba hitung-hitungan kasar saja, walaupun mungkin hitungan tersebut kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, namun hitungan ini merupakan wacana untuk membuka pikiran kita semua tentang pencukupan untuk memenuhi kebutuhan dasar si PNS.

Ambil contoh seorang PNS golongan III b dengan seorang istri dan dua orang anak (tanggungan anak memang maksimal hanya 2 orang), tanpa jabatan struktural maupun fungsional. Dengan kondisi demikian jumlah tanggungan si PNS tersebut adalah 4 orang yang mesti dipenuhi kebutuhan dasarnya.

Secara umum gaji si PNS dengan contoh di atas adalah + Rp. 2.000.000,- . Dengan gaji sejumlah itu si PNS harus mengeluarkan biaya makan, transportasi, pendidikan, listrik, air, dan lain-lain. Sekarang kita coba untuk menghitung biaya makan terlebih dahulu. Kalau satu orang dalam sekali makan terkena biaya Rp. 5.000,- maka dalam sehari dia akan mengeluarkan biaya Rp. 15.000 perorang (3 x makan sehari), dikalikan 4 orang menjadi Rp. 60.000 dalam sehari, nilai tersebut dikalikan 30 (rata-rata hari dalam sebulan) akan berjumlah Rp. 1.800.000,- . sedangkan gaji yang diperoleh adalah Rp. 2.000.000,- artinya sisa gaji bulanan setelah dipotong biaya makan adalah sebesar Rp. 200.000,- saja. Bagaimana dengan transportasi, pendidikan, listrik, air dan lain-lain? Lantas kemana si PNS mencari kekurangan biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar selain makan tersebut? Susah kita untuk menjawabnya, karena secara umum kita melihat PNS cukup –cukup saja biayanya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, bahkan terkadang terlalu berlebihan.

Dari ilustrasi tersebut, walaupun secara hitungan kasar, tergambar bahwa seorang PNS dengan gaji bulanannya, secara ideal tidak dapat mencukupi sekedar kebutuhan dasar hidupnya. Secara psikologis, seorang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan dasar hidupnya, jiwanya akan terganggu, dengan demikian akan berpengaruh terhadap kinerja, seterusnya pelayanan terhadap masyarakat (PNS = pelayan masyarakat) pun akan menjadi kurang optiimal, akibatnya kinerja pemerintah secara luas menjadi tidak baik.

Kembali kepada “good Governance”, rasanya sulit untuk mewujudkannya apabila kesejahteraan PNS tidak menjadi perhatian, minimnya kesejahteraan tersebut akan memberikan dampak lain seperti Korupsi, minimal korupsi waktu, supaya ia punya waktu untuk memperoleh penghasilan sampingan di luar kantor, ini masih lumayan, bagaimana kalau ia berbuat KKN justru di wilayah kerjanya? Tentu ini sangat merugikan kredibilitas pemerintahan dan tentu saja merugikan rakyat.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah pemerintah, jika ingin Good Governance dapat terwujud, mungkin awalnya harus memperhatikan kesejahteraan PNS yang merupakan pilar penegak pemerintahaan, melalui gaji atau tambahan penghasilan lainnya. Tentang berapa nilai gaji yang ideal yang harus diberi, kita punya banyak pakar yang bisa menghitungnya, silahkan saja.

Ayo naikkan gaji PNS!..

Ditulis oleh baNg iCaL (yg kebetulan juga seorang PNS)

Rabu, 21 Mei 2008

menyoal kenaikan BBM

Isyu yang paling krusial akhir-akhir ini adalah rencana pemerintah akan menaikkan harga BBM, dimana-mana di siaran televisi selalu kita lihat perdebatan tentang pro dan kontra tentang rencana kenaikan harga BBM tersebut, disamping itu juga berita tentang unjuk rasa di sana-sini di wilayah nusantara yang pada umumnya menentang kenaikan BBM.

Dari berbagai berita yang sering kita dengar, bahwa menurut pemerintah harga BBM kita terlalu rendah dibandingkan harga dunia, yang konon saat ini sudah mencapai 128 USD per barel, ini artinya subsidi yang diberikan untuk membeli minyak sudah terlalu tinggi, sehingga menyebabkan terganggunya APBN secara signifikan. Menurut wakil presiden, subsidi BBM perlu dicabut karena selama ini yang memperoleh keuntungan adalah orang-orang kaya saja, yang pada dasarnya mereka tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan BBM tersebut, sedangkan bagi rakyat miskin akan diberikan kompensasi berupa BLT seperti yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu (bagaimana dengan rakyat yang miskin tidak kayapun tidak? Hal ini tidak dijelaskan padahal persentase penduduk seperti ini yang banyak…-penulis)

Masih menurut berita debat yang kita lihat di televisi, salah seorang anggota dewan mengatakan bahwa BBM tidak perlu naik jika terjadi pemangkasan-pemangkasan birokrasi yang ada di pertamina menyangkut pendistribusian seperti pengurangan percaloan dan sebagainya, bahkan menurut Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Pemerintah bisa tidak menaikkan BBM dengan menertibkan sistim Pajak dan sebagainya.

Dari Tempointeraktif, 22/10/07, Direktur Ekonomi Makro Bappenas Bambang Priambodo mengatakan, meskipun belanja subsidi bahan bakar minyak ikut terkerek, total pendapatan negara dari PNBP Migas, PPh Migas, dan penerimaan lainnya masih lebih besar dari beban subsidi. Setiap US$ 1 dolar kenaikan harga minyak akan meningkatkan pendapatan negara Rp 3,24 triliun sampai Rp 3,45 triliun; subsidinya juga naik Rp 3,19 triliun sampai Rp 3,4 triliun. Artinya setiap kenaikan US$ 1 dolar negara untung Rp 48-50 miliar
Antaranews, 23/10/07, Menteri ESDM juga menyatakan, “Setiap kenaikan US$ 1 harga minyak, kita memperoleh `windfall` (keuntungan tambahan) sebesar Rp 3,34 triliun, dengan asumsi kursnya mencapai Rp 9.050 perdolar.”

Uraian-uraian di atas semakin membingungkan, siapakah sih sebenarnya yang betul? Atau perlukah BBM naik? Benarkah minyak disubsidi pemerintah? Benarkah ada calo pendistribusian minyak? Bagaimana pula dengan sistem pajak? Dan sebagainya.

Mengingat rencana kenaikan minyak yang saat ini sedang menghitung hari, ayo coba kita simak sedikit uraian yang pernah ditulis oleh Kwik Kian Gie mengenai subsidi minyak itu sendiri, tulisan ini sendiri dibuat tahun 2005 (saat harga premium Rp. 1810
per liter, dan dimuat di harian kompas tgl. 3 Pebruari 2005).

Kwik dalam tulisannya mengatakan bahwa dengan harga premium yang berlaku sekarang (Rp. 1.810 ,- per liter), Pemerintah sama sekali tidak memberi subsidi, sebaliknya pemerintah memperoleh kelebihan uang tunai.

Hitung-hitungannya kira-kira seperti ini, biaya minyak mentah yang disedot dari dalam tanah adalah Rp. X perliter, kemudian diproses menjadi bensin dengan harga Rp.Y perliter, ditambah biaya angkut bensin tersebut seharga Rp.Z jadi Rp.X + Rp.Y + Rp.Z = 10 USD per barrel (1 barrel = 159 liter). Kalau nilai tukar Rupiah (saat itu) Rp. 8.600,- maka keseluruhan biaya perliter adalah (10 x Rp.8.600) : 159 = Rp. 540,88 dibulatkan Rp. 540,-, nah bensin dijual dengan harga Rp. 1.810,- perliter, jadi untuk setiap penjualan satu liter bensin, pemerintah kelebihan uang sebanyak Rp. 1.270. ditinjau dari sudut keluar masuknya uang, pemerintah kelebihan uang tunai. Mengapa dikatakan pemerintah memberi subsidi?

Pemerintah merasa memberi subsidi kepada rakyat karena seandainya bensin premium itu dijual ke luar negeri , saat ini (th 2005) harganya 50 USD per barel (Rp.430.000,- per barel) dibagi 159 menjadi Rp. 2.704,4 dibulatkan Rp. 2.700,- perliter. Ini harga minyak mentah di luar negeri, kalau dijadikan bensin dengan biaya Rp.540,- per liter maka harga bensin premium di luar negeri adalah Rp. 3.240,-/liter.
Selisih harga di luar negeri dengan harga bensin di Indonesia yaitu 3.240 – 1.810 = Rp. 1.340,- per liternya, ini disebut subsidi. Pemerintah merasa memberi subsidi karena tidak bisa menjual bensin dengan harga dunia, gara-gara adanya kewajiban memenuhi kebutuhan rakyatnya akan bensin premium dengan harga yang rendah, yaitu hanya Rp. 1.810,- per liternya. Nah kesempatan memperoleh uang 1.340,- per liter tersebutlah sebetulnya yang hilang, bukan uang tunai.

Dari hitung-hitungan di atas dapat dilihat kelebihan uang pemerintah pertahunnya, misal kelebihan uang sebesar Q liter pertahun, jadi kelebihan uangnya adalah Q liter dikalikan Rp. 1.270,- . Andaikan produksi minyak mentah yg dihasilkan adalah 1,125 juta barel perhari dan diandaikan bersihnya adalah 70% jadi hasil produksi adalah sebesar 787.500 barrel perhari atau 125.212.500 liter perhari, pertahunnya menjadi 45.702.562.500 liter, maka kelebihan uang pertahunnya adalah 45.702.562.500 x Rp. 1.270,- atau Rp 58.042.254.375.000,- (+ Rp. 58 trilyun).
Kebutuhan bensin kita 60 juta kiloliter pertahunnya atau 60.000.000.000 liter, sementara produksi kita hanya (lihat di atas) 45.702.562.500 liter, maka kita haru impor sebesar 14.297.437.500 liter yang harus dibayar dengan harga dunia Rp. 3.240,- per liter, atau Rp. 46.323.697.500.000,-.
Jadi ada kelebihan Rp. 58 trilyun, disisi lain ada kebutuhan impor Rp. 46,3 trilyun, dengan demikian masih terdapat kelebihan uang sebesar + Rp. 11,7 trilyun.

Nah kesimpulan dari hitungan pak Kwik (yang menurutnya hanya sebuah model untuk mendapat pengertian yang sebenarnya) di atas menunjukkan bahwa tanpa menaikkan harga bensin premium, pemerintah sudah kelebihan uang tunai dari keseluruhan eksploitasi minyak mentah untuk dijadikan bensin premium. Dan sekali lagi ini hanya ilustrasi untuk BBM jenis bensin premium, belum bensin pertamax dan lainnya serta gas yang semuanya surplus lebih besar lagi katanya.

Tulisan tersebut dibuat tahun 2005, ketika harga bensin premium Rp. 1.810 per liter, dengan harga minyak dunia 50 USD perbarrel sedangkan saat ini harga bensin Rp. 4.500,- perliter, dengan harga minyak dunia mencapai 128 USD perbarel dan rencana akan naik menjadi Rp. 6.000,- lebih. Silahkan coba konversi hitung-hitungan di atas dengan harga kini.

Kesimpulan akhir adalah merupakan tanda tanya di hati kita masing-masing “PANTAS ATAU TIDAKKAH BBM NAIK?” mari kita hitung-hitungan!!
Yang jelas kalaupun BBM harus naik, marilah kita sama-sama menghemat penggunaan BBM, karena bagaimanapun juga cadangan BBM kita di bumi pertiwi ini semakin lama akan semakin menipis. AYO HEMAT BBM !!